Friday, February 09, 2007

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2007

SURAT GEMBALA PRAPASKA 17 / 18 FEBRUARI 2007


DIA YANG MURAH HATI

Para Ibu/Bapak
Saudari/Saudara yang terkasih dalam Kristus,

1. Ketika saya menyiapkan surat ini, banyak orang bertanya mengenai berbagai macam hal yang menyangkut kehidupan masyarakat kita pada saat ini. Ada yang bertanya mengenai hujan yang datangnya sulit diperhitungkan, sehingga pola tanam terganggu dan dengan demikian para petani mengalami kerugian besar. Yang lain bertanya mengapa bencana alam dan kecelakaan rasanya datang bertubi-tubi menimpa. Sementara wabah tidak ketinggalan menambah beban yang rasanya bagi banyak orang, sudah sangat berat. Yang lain lagi bertanya mengenai Undang-Undang, Peraturan, Keputusan yang dinilai tidak menunjukkan keberpihakan bagi kesejahteraan bersama seluruh masyarakat. Dan masih ada sekian banyak pertanyaan yang lain yang mengusik hati nurani, belum termasuk masalah-masalah yang kita hadapi sebagai pribadi, keluarga atau komunitas kita.

2. Berhadapan dengan semua ini, pendapat atau reaksi orang berbeda-beda. Ada yang tidak peduli, karena toh semua itu tidak menyangkut dirinya. Ada yang langsung mengatakan bahwa ini semua adalah hukuman Tuhan. Yang lain lagi mencoba tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia berusaha untuk menimbang-nimbang keadaan dalam terang iman. Sebagai murid-murid Yesus, kita pun, dalam keadaan apapun, berhadapan dengan soal atau tantangan apapun, diajak untuk membaca keadaan dalam terang iman kita.

Para IbuIBapak, Saudari/Saudara yang terkasih,

3. Sebentar lagi, bersama dengan seluruh Gereja, kita memasuki masa Prapaska. Masa ini ditawarkan kepada kita untuk memperdalam iman, meneguhkan harapan dan mengobarkan kasih. Dengan iman yang semakin dalam, harapan yang semakin teguh dan kasih yang semakin menyala, kita sebagai murid-murid Kristus dapat menimbangnimbang keadaan dengan jemih dan menanggapinya dengan bijaksana.

4. Melalui kutipan Injil yang diwartakan pada hari ini, kita diingatkan bahwa Allah yang kita imani adalah "Bapa yang murah hati" (Luk 6:36). Kebaikan-kebaikan-Nya pantas dipuji dan tidak boleh dilupakan (Mzm 103 :2). Ia adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya (Mzm 103 :8). Dengan kepercayaan iman seperti ini, kita boleh yakin bahwa segala sesuatu - entah kegembiraan dan harapan, atau keprihatinan dan kecemasan - pasti mempunyai pesan dan makna dalam rencana Allah. Dengan berpegang pada keyakinan ini, tidak berarti hidup kita akan dapat berjalan dengan mulus. Bahkan tidak mustahil kita sampai pada pertanyaan iman yang mendasar, "Kalau Allah itu murah hati, mengapa Ia membiarkan semuanya (yang buruk) itu terjadi? Kalau Allah itu baik, mengapa dunia ini begitu jelek?" Juga kalau sampai mucul pertanyaan seperti itu, kita tetap harus yakin bahwa Allah adalah Dia yang murah hati; bahwa Dia itu baik. Bagi kita, tantangannya adalah menemukan jalan agar kehadiran dan karya Allah yang murah hati dan baik itu semakin nyata dan terasa dalam kehidupan ini.

5. Sabda Yesus yang kita dengarkan pada hari ini memberikan arahan-arahan yang amat jelas mengenai apa yang harns kita lakukan agar kehadiran Allah yang baik dan murah hati semakin nyata dan terasa di tengah-tengah dunia ini: mengasihi musuh, berbuat baik kepada yang membenci kita, berdoa bagi yang berbuat jahat terhadap kita, tidak menyimpan balas dendam, memberi dengan murah hati, tidak menghakimi dan menghukum orang lain (Luk 6:27-30.37-38). Intinya adalah agar sebagai murid-murid Yesus, kita berbuat lebih daripada sekedar menurut perhitungan-perhitungan manusiawi saja. Ia juga memberikan hukum emas, "Sebagaimana kami kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka" (ay 31). Kita bisa pelan-pelan berkembang dalam menjalankan nasehat-nasehat itu, kalau dalam iman kita yakin, bahwa kita bukanlah sekedar makhluk yang mempunyai "tubuh alamiah" (1 Kor 15:44.45-49), melainkan juga "anak-anak Allah Yang Mahatinggi" (Luk 6:35) yang dianugerahi "tubuh rohaniah" (1 Kor 15 :44.45-49). Kalau demikian kita akan mampu melihat dengan jemih nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan hidup kristiani yang sejati dan berusaha dengan tekun mencapainya.

6. Dalam rangka berusaha untuk mencapai kesejatian itulah, Panitia Aksi Puasa Pembangunan (=APP) menawarkan bahanbahan pendalaman iman dengan judul KELUARGA : BASIS KESEJATIAN HIDUP BERIMAN. Saya berharap, bahan-bahan yang disediakan oleh Panita APP, dapat membantu kita masing-masing, keluarga, komunitas atau lingkungan kita untuk mengadakan pertemuan-pertemuan dan doa bersama. Kalaupun tidak menggunakan bahan-bahan itu, pertemuan dan doa bersama dalam keluarga, komunitas atau lingkungan, kiranya dapat menjadi ajang untuk bersama-sama mencari arti kesejatian hidup beriman dan bersama-sama pula untuk mencapainya.

7. Akhirnya saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Ibu/Bapak, Saudari/Saudara, kaum muda dan remaja, para biarawati/biarawan, para imam dan seluruh umat Keuskupan Agung Semarang atas keterlibatan, kerelaan, dukungan, pengorbanan dalam usaha menjaga dan mengembangkan kesuburan hidup beriman di Keuskupan Agung Semarang. Tantangan hidup beriman akan semakin kompleks. Tanpa iman yang mendalam, dengan mudah kita akan kehilangan arah hidup. Semoga mas a Prapaska ini menjadi masa yang subur untuk perkembangan iman, harapan dan kasih kita. Semoga dengan demikian masa ini menjadi masa yang penuh berkat, bagi kita sendiri, bagi keluarga, komunitas dan masyarakat pada umumnya. Selamat menjalani masa Prapaska dan semoga berkat Tuhan melimpah untuk kita, keluarga dan komunitas kita.



PERATURAN PUASA DAN PAN TANG 2007
Mengacu Statuta Keuskupan Regio Jawa 1995 pasal 136 peraturannya ditetapkan sebagai berikut:

1. Hari Puasa tahun 2007 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 21 Februari, dan Jumat Agung tanggal 6 April. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.
Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya oleh seluruh keluarga, atau seluruh lingkungan, atau seluruh wilayah, ditetapkan cara puasa dan pantang lebih berat, yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan.
Tentu saja ketetapan yang dibuat sendiri tidak mengikat dengan sanksi dosa.
4. Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersama-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, meditasi, dan sebagainya.
5. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan atau APP, yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak pembaharuan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.


Tema APP tahun 2007 ini berbunyi:
"KELUARGA: BASIS KESEJATIAN HIDUP BERIMAN"
sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang. Dalam rangka APP tersebut semua dana yang diperoleh dari aksi pengumpulan dana selama masa Prapaska dari paroki, lembaga hidup bakti, lembaga-Iembaga gerejawi, pendidikan dan kelompok-kelompok kategoriallainnya, termasuk kolekte Minggu Palma tanggal 31 Maret / 1 April 2007, sesuai dengan Pedoman Keuangan Paroki Keuskupan Agung Semarang 1991 pasal 8, sub b, dan surat Uskup Agung Semarang kepada Majelis Pendidikan Katolik, No. 052/ A/XI/11/02, tanggal 28 Januari 2002, ditetapkan:
25% tinggal di paroki / masing-masing sekolah 75% dikirim kepada: PANITIA APP KAS J1. Imam Bonjol 172, Semarang 50131 Jikalau dikirim melalui bank, harap melalui: BANK PURBA DANARTA J1. Veteran 7, Semarang 50231 Rekening Giro Nomor: 31-00006-9 a/n. PSE / APP KAS. Selanjutnya, dana 75% tersebut di atas akan disalurkan oleh Panitia APP KAS: 25% untuk kevikepan masing-masing; 20% untuk Panitia APP KAS; dan 30% untuk dana APP Nasional / DSAK.

Semarang, 2 Februari 2007
Ignatius Suharyo
Uskup Agung Semarang

APP 2007 NOVENA UMAT

KELUARGA :
BASIS KESEJATIAN HIDUP BERIMAN

Membangun komunikasi dalam Keluarga

PANITIA APP KAS
Jl. Imam Bonjol 172 - SEMARANG 55131
Telp. 024-3543119 Fax. 024-3582077

POKOK GAGASAN TEMA APP KAS 2007

Pengantar

Tema besar APP Nasional tahun 2007-2011 adalah PEMBERDAYAAN KESEJATIAN HIDUP yang akan didalami melalui tema tahunan. Pada tahun 2007, Kesejatian Hidup didalami dalam konteks Hubungan Sosial. Hubungan sosial yang tidak harmonis akan melahirkan berbagai macam persoalan yang mengakibatkan kita sebagai manusia kehilangan kesejatian hidup.
Kita sebagai Umat Allah Keuskupan Agung Semarang pun bercita-cita membangun kesejatian hidup sebagaimana dirumuskan dalam Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2006-2010. Maka gerakan membangun dan mewujudkan kesejatian hidup merupakan gerakan melaksanakan ARDAS KAS 2006-2010.
Fokus Pastoral tahun 2007 dalam konteks melaksanakan ARDAS adalah HABITUS BARU DIBANGUN BERSAMA-SAMA DALAM KELUARGA DENGAN MENJADIKANNYA BASIS HIDUP BERIMAN. Maka tanpa meninggalkan arus gerakan APP secara nasional dan dalam keterlibatan aktif kita melaksanakan ARDAS KAS, tema gerakan APP KAS 2007 adalah:

KELUARGA : BASIS KESEJATIAN HIDUP BERIMAN
(Membangun Relasi dalam Keluarga)

Kesejatian Hidup

Harus diakui bahwa tidaklah mudah untuk mendefinisikan atau memberi arti dari kesejatian hidup. Sebab kesejatian hidup menyangkut keyakinan seseorang/sekelompok orang atau menyangkut orientasi hidup. Salah satu pandangan tentang kesejatian hidup yang mau kita renungkan bertitik tolak dari hakekat manusia sebagai CITRA ALLAH. Itu berarti bahwa hidup sejati adalah hidup sebagai citra Allah, atau hidup benar di hadapan Allah dengan cara hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat; hidup dalam keutuhan sebagai ciptaan Allah.
Manusia diciptakan oleh Allah menurut gambaran dan rupa Allah. Kalau demikian maka hakekat kesejatian hidup tidak hanya menyangkut hal-hal lahiriah tetapi sekaligus hal rohaniah. Kalau ada yang mengatakan bahwa kesejatian hidup adalah soal kesejahteraan, itupun bukan hanya menyangkut hal-hal jasmani tetapi sekaligus hal rohani; tidak hanya di dunia ini tetapi mengarah menuju kehidupan abadi.
Citra Allah yang sempurna di dunia ini adalah Tuhan Yesus Kristus. Dialah pengejawantahan Allah, orang yang benar di hadapan Allah; kesejatian hidup ada padaNya. Apabila kita hendak menemukan kesejatian hidup, teladan yang paling utama atau yang paling unggul adalah pribadi Yesus Kristus. Ia hidup dalam relasi sempurna dengan Allah, dengan alam, dengan sesama. Relasi itu dibangun dengan mentaati kehendak BapaNya, menegakkan Kerajaan Allah di dunia ini agar kelak semua orang menikmati hidup abadi. Maka Yesuspun bersabda, "carilah dahulu Kerajaan Allah, maka yang lainnya akan ditambahkan kepadamu".

Konteks Jaman

Dewasa ini kita hidup dalam arus dunia yang sangat kuat yang disebut globalisasi. Ciri khas dari globalisasi adalah percepatan dan uang. Sehingga siapa yang bisa bersaing dalam dua hal itu, akan bisa mengikuti arus globalisasi. Namun demikian toh hal itu bukan merupakan jaminan bahwa orang menemukan kesejatian hidup di dunia ini. Apalagi kalau dalam mengarungi arus globalisasi tanpa didasari dengan kekuatan dan nilai-nilai iman; tanpa didasari dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Dengan bergulirnya globalisasi, keluarga-keluarga katolik menghadapi tantangan-tantangan hidup baik yang bersifat global maupun lokal, terutama dari arus kehidupan masyarakat yang berdampak pada munculnya persoalan-persoalan rumah tangga. Sebab dari satu sisi yang utama, kita dipanggil untuk menegakkan Kerajaan Allah (juga dalam keluarga), dari sisi lain kita dihadapkan pada tantangan (tawaran/godaan/cobaan) masuk dalam kerajaan duniawi.
Kita tidak bisa menutup mata terhadap arus yang disebut globalisasi, yang merasuki kehidupan manusia sekarang ini. Tanpa menyangkal adanya unsur-unsur positif dari globalisasi, nyatanya globalisasi ikut andil dalam menyuburkan arus indiviualisme, materialisme, keserakahan, dan egoisme. Secara rasional dan sadar orang bisa menilai dan mengatakan bahwa ada dampak negatif dari globalisasi; namun di sisi lain manusia kadang tidak menyadari bahwa dirinya sudah masuk di dalam arus itu. Sehingga dampak yang ditimbulkan juga dialaminya, dimana semakin banyak orang menjadi sangat indiviualistis, materialistis, dan egoistis.

Keluarga : wahana membangun kesejatian hidup

Keluarga katolik adalah keluarga yang diberkati dan dikuduskan oleh Allah, dipersatukan oleh kasih Allah yang abadi. Keluarga katolik adalah wahana untuk membangun hidup sejati, dimana Kerajaan Allah ditegakkan. Bagi kita, keluarga adalah komunitas hidup yang paling dasar untuk menghayati iman kepada Allah. Namun demikian keluarga-keluarga katolik hidup di tengah masyarakat yang mengikuti arus kehidupan dunia ini. Maka tidak mengherankan kalau keluarga-keluarga katolik juga terkena dampak dari arus kuat dunia sekarang ini yang disebut globalisasi.
Kekuatan bagi keluarga-keluarga katolik untuk menghadapi arus jaman adalah iman yang dibangun, dihayati, dan diwujudkan di dalam kehidupan keluarga itu. Sehingga harapannya adalah masing-masing anggota keluarga sungguh-sungguh menemukan kesejatian hidup beriman di dalamnya. Pertanyaannya adalah, sejauh manakah keluarga-keluarga kita - dengan segala persoalannya - sudah menjadi wahana kesejatian hidup beriman?

Tantangan untuk membangun kesejatian hidup beriman di dalam keluarga tidaklah ringan. Semakin banyak keluarga yang diterpa berbagai macam perkara atau persoalan. Bisa kita sebut beberapa persoalan keluarga pada jaman sekarang ini antara lain:
  • Ekonomi Rumah Tangga
  • Komunikasi dalam keluarga
  • Pembinaan iman dalam keluarga
  • Kekerasan dalam rumah tangga
  • Kesetiaan suami-isteri
  • Masalah khusus seperti: tidak punya anak; impotensi; usia suami istri beda jauh; domisili suami istri berjauhan; ikut mertua; kawin campur; kesenjangan pendidikan suami istri
  • Dll.

Pertobatan dan Silih

Keluarga-keluarga katolik di Keuskupan Agung Semarang diharapkan mampu membangun habitus baru dengan mengembangkan hubungan sosial (relasi antar anggota) sebagai perwujudan imannya, sehingga setiap anggota keluarga menemukan kesejatian hidup di dalam keluarga masing-masing.
Dalam konteks mewujudkan Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, keluarga-keluarga katolik diajak berpikir kreatif dan cerdas sehingga ditemukan cara-cara penghayatan iman yang lebih baik untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi. Untuk itu diperlukan kesadaran dari masing-masing anggota keluarga mengenai arah pengembangan hidup berkeluarga dalam konteks jaman seperti sekarang ini. Beberapa pemikiran kreatif untuk membangun keluarga sebagai basis kesejatian hidup beriman adalah :
  1. pengembangan spiritualitas keluarga katolik menjadi paguyuban orang beriman
  2. pengembangan keluarga menjadi Gereja kecil
  3. pengembangan keluarga menjai landasan hidup baik menggereja maupun memasyarakat
  4. pengembangan keluarga menjadi tempat tumbuhnya panggilan hidup
  5. pengembangan keluarga sebagai "komunitas mistik" (dekat-menyatu dengan Allah).
Dalam masa prapaskah seperti sekarang ini, proses pemulihan atau penyempurnaan hidup berkeluaga, sekaligus merupakan bentuk pertobatan dan silih atas dosa-dosa. Tindakan pertobatan ini bisa dilakukan misalnya dengan :
  • menghayati relasi/komunikasi suami-istri sebagai sakramen.
  • mengasuh-mendidik anak secara katolik
  • mewujudkan keluarga sebagai Gereja kecil
  • mengupayakan kemandirian dalam ERT
  • Ikut membangun Gereja dengan keterlibatannya
  • Ikut membangun masyarakat dalam bentuk solidaritas
Semoga gerakan yang kita adakan dalam masa Prapaskah ini, baik secara rohani (doa, ibadat, penerimaan sakramen) maupun lahiriah (puasa dan amal/derma) sungguh merupakan ungkapan dan wujud pertobatan dan silih atas dosa-dosa kita. Dan semoga gerakan APP pada tahun ini merupakan bentuk konkrit upaya membangun habitus baru bersama-sama di dalam keluarga dengan menjadikannya basis hidup beriman, sehingga Keluarga-keluarga mampu membangun habitus baru dengan mengembangkan hubungan/komunikasi sosial (relasi antar anggota) sebagai keluarga katolik, sehingga setiap anggota keluarga menemukan kesejatian hidup beriman di dalam keluarga masing-masing.

Bentuk atau model pendalaman tema prapaskah pada tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni dengan model novena khusus. Waktu dan urutan Novena Prapaskah dan Paskah 2007 adalah sebagai berikut:
  1. Rabu Abu (doa bersama di gereja)
  2. Minggu I : Menemukan arti kesejatian hidup beriman
  3. Minggu II : Menyadari rahmat dan panggilan Keluarga menjadi basis kesejatian hidup beriman
  4. Minggu III : Menyadari realita persoalan keluarga
  5. Minggu IV : Perayaan tobat dan silih
  6. Jumat Agung (doa bersama di Gereja)
  7. Minggu I Paskah : Keluarga (doa/pendalaman)
  8. Minggu II Paskah: Lingkungan (syukur atas paskah: ibadat)
  9. Minggu III Paskah : Paroki (Doa syukur)

Selamat menghayati misteri wafat dan kebangkitan Kristus. Sebab kita ikut dalam kematian Yesus dan akhirnya ikut pula dalam kebangkitan Yesus.

Catatan tentang buku ini dan penggunaannya :
  1. Buku ini disusun untuk memudahkan dan membantu seluruh umat Keuskupan Agung Semarang dalam merenungkan dan menghayati misteri wafat-kebangkitan Kristus atau karya penebusan Kristus dengan tema Keluarga: basis kesejatian hidup beriman. Buku panduan pendalaman tema APP disusun dalam bentu Novena Prapaskah & Paskah, dengan maksud agar keluarga-keluarga dalam kesatuan Gereja KAS dapat mengungkapkan keikutsertaannya dalam wafat dan kebangkitan Kristus.
  2. Para pemandu lingkungan atau kelompok dipersilakan membaca dengan teliti Gagasan Pokok Tema APP 2007 ini agar dapat memandu dengan baik.
  3. Bentuk Novena dalam buku panduan ini berbeda dengan bentuk Novena seperti biasanya. Waktunya tidak tetap, tetapi yang ditekankan adalah sembilan kesempatan ditawarkan untuk bisa menghayati masa prapaskah dan paskah.
  4. Doa Novena dilaksanakan secara bervariasi: bersama seluruh umat di gereja, di lingkungan, dan di keluarga masing-masing sesuai dengan petunjuk pada setiap pertemuan. Teks doa bisa diperbanyak!
  5. Novena ini dilaksanakan selama masa Prapaskah dan ditambah tiga kali Novena pada minggu I, II, III masa Paskah.
  6. Kolekte untuk Aksi Puasa Pembangunan hanya sampai dengan Pekan Suci. Sedangkan Novena pada masa Paskah, seandainya ada kolekte, tidak termasuk dana APP yang dikumpulkan.
  7. Doa Novena Prapaskah-Paskah bisa dijadikan doa setiap hari baik secara pribadi maupun secara bersama di keluarga-keluarga.

Panitia APP KAS 2007
NOVENA KE-1: HARI RABU ABU (21 Februari 2007)

Sub Tema : Keluarga : Dipersatukan oleh Tuhan, Menyerahkan diri kepada Tuhan.
Tujuan : Umat dapat mengawali masa prapaskah sebagai keluarga Allah dalam kesatuan dengan Tuhan.
Bentuk : Berdoa NOVENA PRAPASKA-PASKAH 2007 bersama seluruh umat di gereja/kapel/lingkungan pada saat perayaan ekaristi/ibadat sabda hari Rabu Abu.

Catatan :
Penempatan doa NOVENA PRAPASKAH-PASKAH 2007 bisa pada bagian doa persembahan; atau di bagian lain yang ditentukan oleh Rama/Prodiakon pemimpin ekaristi/ibadat Rabu Abu.

DOA NOVENA PRAPASKAH-PASKAH 2007

Tuhan Allah Bapa Maharahim dan Berbelas kasih
Engkau telah memilih keluarga kudus Nazaret untuk melaksanakan karya penebusanMu bagi kami.
Kami bersyukur atas keteladanan keluarga kudus Nazaret.
Kepadamu kami serahkan hati, jiwa dan hidup keluarga kami, sebab Engkau telah menguduskan keluarga kami dengan berkatMu. Ampunilah segala dosa-dosa kami.

Allah Bapa sumber hidup dan kasih sejati,
Terangilah kami sekeluarga dengan belas kasihMu. Lindungilah dan selamatkanlah keluarga kami dengan kerahimanMu. Semoga dengan kekuatan kasih dan kebangkitanMu, kami sekeluarga mampu mengatasi segala godaan dan pencobaan; sanggup menyelesaikan tugas perutusan kami.

Tuhan Allah Bapa Mahapengasih dan Mahasetia
Kami persembahkan keluarga kami kepadaMu, seperti halnya keluarga kudus di Nazaret. Dengan meneladan keluarga kudus di Nazaret semoga kamipun mampu menjadikan keluarga kami basis kesejatian hidup beriman dan menegakkan KerajaanMu di tengah-tengah gelombang kehidupan duniawi jaman sekarang ini. Dan akhirnya semoga kami menikmati buah-buah paskah abadi.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara Kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, sepanjang segala masa.

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Terpujilah Keluarga Kudus, Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Bapa Yosef, Sekarang dan selama-lamanya. Amin.


NOVENA KE-2: Minggu I Prapaskah

Sub Tema: Menemukan arti kesejatian hidup beriman
Tujuan: Umat mempunyai pengertian tentang kesejatian hidup sesuai dengan bahasanya
Bentuk dan Proses: Ibadat Sabda di Lingkungan atau kelompok kategorial

Ritus pembuka
1. Nyanyian Pembuka (memilih sendiri)
2. Tanda salib dan salam
3. Pengantar
Disampaikan kepada umat yang hadir beberapa hal :
  • Bentuk Novena (yang tidak biasa) ini dipilih untuk memberi dukungan dan kesempatan lebih banyak kepada umat untuk berdoa.
  • Mengajak Umat untuk menghayati Prapaskah-Paskah bukan sebagai beban, tetapi dengan penuh syukur dan penuh harap.
  • Tujuan Pertemuan pertama ialah supaya umat memahami gagasan pokok tema APP KAS 2007.
4. Pernyataan Tobat
5. Doa Pembuka
Isi Doa antara lain :
- Syukur atas penciptaan diri kita sebagai citra Allah
- Syukur atas keluarga yang dibentuk-diberkati oleh Tuhan
- Mohon agar dapat menghayati masa prapaskah dan mengalami paskah dengan penuh syukur

Liturgi Sabda
6. Bacaan: Kejadian 1: 26-29
7 Nyanyian untuk meresapkan pesan bacaan (misal: PS No. 424)
8. Renungan/pendalaman :
  • Manusia diciptakan seturut gambaran Allah dan diberi kuasa atas alam semesta untuk bekerja bersama Allah, tidak untuk bertindak sewenang-wenang atau main kuasa.
  • Keluarga merupakan "lembaga" yang diberkati Tuhan dan diberi kepercayaan untuk mengelola kehidupan di dunia.
  • (Disampaikan isi Gagasan Pokok Tema Prapaskah KAS 2007 atau mau dibacakan?)
Aneka Doa
09. Lagu (misal: Keluarga Cemara)
10. Doa Novena Prapaskah-Paskah 2007 (Lihat pertemuan I)
11. Doa umat/Aneka doa/Kolekte (doa-doa disiapkan pemandu)
12. Bapa Kami (Bisa dinyanyikan)
13. Doa Penutup (isi pokoknya):
  • Syukur atas terselenggaranya doa Novena ke-2
  • Mohon berkat untuk bisa menghayati sengsara dan wafat Yesus dengan puasa, doa, dan amal.
  • Mohon berkat untuk keluarga-keluarga di lingkungan.

Ritus Penutup
14. Pengumunan: petugas-petugas untuk Novena ke-3, dll
15. Berkat dan Pengutusan
(Pemimpin Ibadat, kalau bukan imam, memohon berkat Tuhan dengan rumus "Semoga Tuhan memberkati kita semua, dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus" dengan membuat tanda salib biasa pada dirinya)
16.Nyanyian Penutup (Misal: PS No. 613 bait 2-3)

NOVENA KE-3: Minggu II Prapaskah

Sub Tema: Menyadari rahmat dan panggilan Keluarga menjadi basis kesejatian hidup beriman
Tujuan: Keluarga-keluarga mempunyai orientasi hidup yang diperjuangkan dengan gembira dan penuh syukur
Bentuk dan Proses: Renungan dan pendalaman di Lingkungan

Ritus pembuka
1. Nyanyian Pembuka
2. Tanda salib dan salam
3. Pengantar :
Disampaikan kepada umat yang hadir beberapa hal :
  • Terbentuknya keluarga bukan semata-mata keinginan manusia, tetapi lebih-lebih sebagai rahmat dan panggilan Allah
  • Konsekuensi atau sebagai tanggung jawab keluarga adalah menyadari rahmat dan panggilan keluarga dengan menjadikannya basis kesejatian hidup beriman
  • Tujuan hidup setiap keluarga hendaknya diperjuangkan dengan penuh syukur dan gembira
1.Pernyataan Tobat (bisa memilih dari rumus yang tersedia pada buku doa yang dipergunakan umat setempat)
2.Doa Pembuka :
Isi Doa antara lain :
  • syukur atas iman kepada Kristus yang dianugerakan Allah terhadap keluarga,
  • mohon rahmat Tuhan agar perjalanan hidup dan cita-cita keluarga sampai kepada Kristus,
  • mohon berkat untuk pelaksanaan novena ke-3
  • mohon terang Roh Kudus agar dapat memahami dan melaksanakan Sabda Tuhan
  • dll.
Liturgi Sabda
3.Bacaan : Kejadian 6:1-22
4.Nyanyian (misal : Keluarga Cemara)
5.Renungan/pendalaman
-Nuh dipanggil beserta sanak keluarganya; Keluarga Nuh dipanggil menjadi basis kehidupan manusia yang sejati. (18 Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu. 19 Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. 20 Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. 21 Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.")
-Nuh diberi rahmat kehidupan bersama seluruh sanak famili dan segala miliknya. (ay 8. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN).
-Rahmat dalam keluarga berupa :
-berkat yang mengesahkan hidup berkeluarga
-identitas keluarga adalah komunitas hidup dan kasih
-keluarga adalah Gereja kecil
-keluarga adalah komunitas yang akrab dengan Allah
-diberi kepercayaan terlibat dalam membangun Gereja dan masyarakat.
-keluarga adalah tempat pendidikan pertama dan utama
-keluarga adalah tempat pertama bagi pembenihan dan pengembangan panggilan hidup.
-(ay. 9. Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah).
-setiap keluarga diberi kekuatan ilahi untuk melakukan yang benar di hadapan Allah [menghayati kehidupan sejati]. (ayat 22, Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.)

Pertanyaan Renungan : (diberi kesempatan untuk sharing)
1.Rahmat apa saja yang telah dialami dalam kehidupan keluarga yang semakin meneguhkan iman dan semakin menyemangati dalam mengikuti Tuhan atau melaksanakan perintah Tuhan?
2.Kira-kira gambaran keluarga yang seperti apa yang disebut dengan keluarga yang hidup sejati atau menghayati iman yang sejati? Mungkinkah itu terjadi pada keluarga kita?

Aneka Doa
3.Lagu (Misal: Keluarga Cemara)
Doa Novena Prapaskah-Paskah (Lihat Pertemuan I)
4.Doa umat/Aneka doa/Kolekte (Disiapkan oleh Pemandu)
5.Bapa Kami (bisa dinyanyikan)
6.Doa Penutup
7.Didoakan rumus doa malam yang bisa diambil dari buku Puji Syukur atau Madah Bakti atau dari sumber yang lain.

Ritus Penutup
8.Pengumunan (Petugas-petugas untuk Novena ke-4)
9.Berkat dan Pengutusan
10.Nyanyian Penutup : Dipilih salah satu nyanyian Maria


NOVENA KE-4 : Minggu III Prpaskah

Sub Tema: Menyadari realita persoalan keluarga
Tujuan: Keluarga-keluarga menemukan prioritas persoalan yang harus diatasi dan menemukan jalan pertobatan
Bentuk dan Proses: Inventarisasi dan Usulan solusi di Lingkungan

Ritus pembuka
1.Nyanyian Pembuka : (Misal : Gereja bagai Bahtera)
2.Tanda salib dan salam
3.Pengantar :
-Diingatkan kembali tema pertemuan dalam novena ke-3; bahwa ada pengalaman-pengalaman baik, pengalaman berahmat dalam hidup keluarga
-Disampaikan maksud pertemuan dalam novena ke-4 ini bahwa setiap keluarga tidak lepas dari persoalan-persoalan mulai dari yang kecil sampai yang besar. Dalam menginventaris persoalan-persoalan keluarga, tidak perlu menunjuk keluarga tertentu atau keluarga sendiri (kecuali rela berbagi pengalaman pribadi), tetapi menyebut saja persoalan-persoalan yang sering didengar, dilihat, dialami.
4.Pernyataan Tobat (bisa variatif, dengan memilih ungkapan-ungkapan tobat yang tersedia pada buku umat)
5.Doa Pembuka

Liturgi Sabda
6.Bacaan : Kejadian 7:1-24
7.Nyanyian : (misal : PS No. 650)
8.Renungan/pendalaman
  • Keluarga Nuh menghadapi bencana air bah selama 150 hari, hidup dalam bahtera di atas air, terombang-ambingkan arus air, sempat kehilangan arah mata angin
  • Pengalaman Nuh bisa menjadi gambaran kehidupan keluarga-keluarga beriman, kendati dikarunia rahmat namun juga mengalami bahtera kehidupan keluarga yang kadang tidak ringan.
  • Permenungan/pendalaman/sharing: Umat yang hadir dipersilakan untuk menginventaris persoalan-persoalan keluarga masa kini atau menyebut begitu saja persoalan keluarga yang dialami atau dilihat/didengar dari orang lain (misal: menjadi korban kemajuan teknologi, dll.) dengan catatan seperti pada bagin pengantar. Selain itu, umat diminta juga memberikan tawaran/alternatif solusi terhadap persoalan yang disebut tadi.
Aneka Doa
9.Lagu (Misal: Keluarga Cemara)
10.Doa Novena Prapaskah-Paskah (Lihat Pertemuan I)
11.Doa umat/Aneka doa/Kolekte (Disiapkan oleh Pemandu atau dari Umat yang sudah ditentukan pada pertemuan sebelumnya)
12.Bapa Kami (Bisa Dinyanyikan)
13.Doa Penutup : Penyerahan Keluarga kepada Bunda Maria

Ritus Penutup
14.Pengumunan (Petugas-petugas untuk Novena ke-5, bentuk ungkapan tobat yang mau dipakai atau dilaksanakan pada Novena ke-5)
15.Berkat dan Pengutusan
16.Nyanyian Penutup : (Dipilih nyanyian yang bertemakan keluarga kudus)

NOVENA KE-5: Hari Minggu IV Prapaskah

Sub Tema: Perayaan tobat dan silih
Tujuan: Keluarga-keluarga mengungkapkan penyesalan dan tobatnya, membangun niat konkret sebagai silih
Proses: Ibadat Tobat Kreatif di Lingkungan

Ritus pembuka
1.Nyanyian Pembuka (Misal : Hanya Debulah Aku)
2.Tanda salib dan salam
3.Pengantar :
-Disampaikan tujuan atau maksud pertemuan pada Novena ke-5 ini, yakni membangun pertobatan dan berdoa silih, untuk memberbaharui semangat hidup kristiani dalam keluarga.
4.Doa Pembuka :
Umat diajak berdoa bersama-sama dari Mazmur 25:1-21

Liturgi Sabda
5.Bacaan : Kejadian 9:1-17
6.Nyanyian (Misal : Kidung SabdaMu)
7.Renungan/pendalaman
  • Diingatkan kembali apa yang terjadi pada Nuh beserta keluarganya : dipanggil, diberkati, menghadapi air bah.
  • Nuh setia melaksanakan yang benar di hadapan Allah, dan Allah menyatakan kembali perjanjianNya dengan Nuh (pembaharuan perjanjian).
  • Umat diajak mengungkapkan tobatnya secara kreatif dengan ungkapan atau wujud yang sesuai dengan keinginnnya (misal: membakar kertas, menyerahkan simbol-simbol dosa, yang disiapkan oleh pemandu sebelumnya termasuk alat-alat yang mau dipergunakan)
Aneka Doa
8.Lagu (Keluarga Cemara)
9.Doa Novena Prapaskah-Paskah (Lihat Pertemuan I)
10.Doa umat/Aneka doa/Kolekte (Disiapkan oleh Pemandu atau dari Umat yang sudah ditentukan pada pertemuan sebelumnya)
11.Bapa Kami
12.Doa Penutup : Diambil dari Rumus Doa Malam dari PS

Ritus Penutup
13.Pengumunan (Pertemuan berikutnya : sesudah paskah pada Minggu ke-3)
14.Berkat dan Pengutusan
15.Nyanyian Penutup

NOVENA KE-6: HARI JUMAT AGUNG

Sub Tema: Kesejatian hidup Kristus adalah taat sampai wafat di Salib
Tujuan: Umat menyadari bahwa ketaatan Yesus pada Bapa sampai wafat di Salib mewujudkan kesejatian hidupNya.
Bentuk: Doa bersama di gereja pada saat ibadat penghormatan salib di hari Jumat Agung.

Pelaksanaan Novena ke-6 diselenggarakan di Gereja, disatukan dengan ibadat penghormatan Salib pada hari Jumat Agung. Doa Novena Prapaskah dan Paskah didoakan setelah upacara Doa Umat Meriah.

Tesks Doa Novena Prapaskah dan Paskah silakan lihat Novena ke-1.



NOVENA KE-7 : Minggu I Paskah

Sub Tema: Keluarga Mengukapkan Syukur (doa/ pendalaman)
Tujuan: Keluarga-keluarga menyadari bahwa sudah layak dan sepantasnya berdoa, mengungkapkan syukur atas rahmat panggilan hidup berkeluarga dan atas karya penebusan Allah di tengah-tengah keluarga; anggota keluarga adalah rahmat dari Allah.
Proses: Doa bersama/sharing di keluarga masing-masing

Ritus pembuka
1.Nyanyian Pembuka
2.Tanda salib dan salam
3.Pernyataan Tobat
4.Doa Pembuka

Liturgi Sabda
5.Bacaan : Yoh 20:19-31
6.Nyanyian
7.Renungan/pendalaman (kalau di dalam keluarga ada kebiasaan berbagi ceritera atau mau mencoba berbagi ceritera di antara anggota keluarga, bagian ini menjadi tawaran) atau pada kesempatan ini di antara anggota keluarga saling mengucapkan selamat paskah dan berdamai satu sama lain.

Aneka Doa dan Penutupan
8.Lagu (fakultatif)
9.Doa Novena Prapaskah-Paskah (Lihat teks Novena ke-1)
10.Doa umat (di antara anggota keluarga saling mendoakan)
11.Bapa Kami (bisa dinyanyikan)
12.Doa Penutup: Doa malam dari Buku yang ada di keluarga. Seandainya tidak ada buku, maka salah satu anggota keluarga memimpin doa penutup untuk mohon berkat Tuhan.

NOVENA KE-8: Minggu II Paskah

Sub Tema: Syukur atas paskah
Tujuan: Lingkungan yang terdiri dari keluarga-keluarga bersyukur atas karya penebusan Kristus
Proses: Ibadat bersama/Sharing di Lingkungan

Ritus pembuka
1.Nyanyian Pembuka (Nyanyian Paskah)
2.Tanda salib dan salam
3.Pengantar: Disampaikan kepada Umat tujuan pertemuan novena ini, yakni untuk bersyukur atas Kebangkitan Kristus. Inti pertemuan ini adalah secara bersama-sama di lingkungan mengucap syukur atas karya agung dan belaskasih Allh.
4.Pernyataan Tobat
5.Doa Pembuka

Liturgi Sabda
6.Bacaan : Yoh 21:1-19
7.Nyanyian
8.Renungan/pendalaman
-Umat diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman iman atau pengalaman diselamatkan oleh Tuhan.

Aneka Doa
9.Lagu
10.Doa Novena Prapaskah-Paskah (Lihat Pertemuan I)
11.Doa umat/Aneka doa/Kolekte (disiapkan oleh pemandu)
12.Bapa Kami
13.Doa Penutup

Ritus Penutup
14.Pengumunan
15.Berkat dan Pengutusan
16.Nyanyian Penutup (Ditentukan sendiri)



NOVENA KE-9: Minggu III Paskah

Sub Tema: Paskah: kekuatan iman keluarga Allah
Tujuan: Umat sekeuskupan agung Semarang menyadari kesatuannya sebagai Gereja setempat yang telah diselamatkan di wlayah masing-masing dan mensyukuri rahmat penebusan.
Bentuk: Doa syukur bersama seluruh umat paroki di Gereja se Keuskupan Agung Semarang. Didoakan setelah doa umat selesai.

DOA NOVENA PRAPASKAH-PASKAH 2007

Tuhan Allah Bapa Maharahim dan Berbelas kasih
Engkau telah memilih keluarga kudus Nazaret untuk melaksanakan karya penebusanMu bagi kami.
Kami bersyukur atas keteladanan keluarga kudus Nazaret.
Kepadamu kami serahkan hati, jiwa dan hidup keluarga kami, sebab Engkau telah menguduskan keluarga kami dengan berkatMu. Ampunilah segala dosa-dosa kami.

Allah Bapa sumber hidup dan kasih sejati,
Terangilah kami sekeluarga dengan belas kasihMu. Lindungilah dan selamatkanlah keluarga kami dengan kerahimanMu. Semoga dengan kekuatan kasih dan kebangkitanMU, kami sekeluarga mampu mengatasi segala godaan dan pencobaan; sanggup menyelesaikan tugas perutusan kami.

Tuhan Allah Bapa Mahapengasih dan Mahasetia
Kami persembahkan keluarga kami kepadaMu, seperti halnya keluarga kudus di Nazaret. Dengan meneladan keluarga kudus di Nazaret semoga kamipun mampu menjadikan keluarga kami basis kesejatian hidup beriman dan menegakkan KerajaanMu di tengah-tengah gelombang kehidupan duniawi jaman sekarang ini. Dan akhirnya semoga kami menikmati buah-buah paskah abadi.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara Kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, sepanjang segala masa.

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, seperti........

Terpujilah Keluarga Kudus, Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Bapa Yosef, Sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Thursday, February 02, 2006

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2006


MENJALANI PUASA DAN PANTANG,
IKUT MEMBANGUN KEHIDUPAN BERSAMA


SURAT GEMBALA PRAPASKAH
25/26 FEBRUARI 2006


Ibu/Bapak, Saudari/saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

1. Tidak jarang kepada saya diajukan pertanyaan ini, “Rama, sekarang ini banyak didirikan tempat-tempat ibadah baru. Upacara-upacara keagamaan juga tampak semakin meriah. Tetapi mengapa negeri kita tidak menjadi semakin damai dan sejahtera? Mengapa tampaknya yang terjadi justru yang sebaliknya?”. Tidak mudah menjawab pertanyaan yang jelas dan sederhana ini. Salah satu jawaban yang sering diberikan ialah, orang sudah merasa puas dengan melakukan aturan-aturan keagamaan secara lahiriah. Sementara tanggungjawab untuk mewujudkan iman dalam tata kehidupan bersama – baik pada tataran pemerintahan, dunia bisnis maupun masyarakat warga – tidak begitu saja disadari dan dilaksanakan.

2. Hari Rabu yang akan datang adalah Hari Rabu Abu. Pada hari itu kita memasuki masa Prapaskah, masa puasa dan pantang. Kita tahu bahwa berpuasa dan berpantang dapat sekedar merupakan pelaksanaan aturan agama yang dijalankan begitu saja; tetapi juga dapat menjadi perwujudan iman yang amat bermakna. Pertanyaan mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa - sementara murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi berpuasa (Mrk 2:18) - dapat membantu kita untuk memahami masalahnya. Puasa adalah suatu bentuk praktek hidup beragama yang pada dasarnya baik. Dengan berpuasa seorang beriman mengesampingkan hal-hal yang ia inginkan atau bahkan yang ia perlukan, misalnya makan, minum, berbelanja dst. Dengan cara itu ia ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak dikuasai atau bahkan diperbudak oleh keinginan-keingian atau keperluan-keperluan dirinya. Sebaliknya ia menguasainya. Dengan berpuasa secara benar, seorang beriman menjadi semakin dewasa dalam iman, semakin merdeka dan semakin dekat dengan Tuhan. Buahnya adalah kegembiraan batin yang mendalam. Sementara orang Farisi menggunakan praktek puasa untuk menonjolkan diri. Dengan cara itu ia membiarkan diri dikuasai oleh keinginan-keinginannya sendiri. Buahnya adalah kesombongan dan dengki.

Ibu/Bapak, Saudari/saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

3. Kita ingin menjalani masa puasa dan pantang ini secara benar. Memang berpuasa dan berpantang menyangkut hal makan dan minum. Namun intinya adalah pertobatan, kembali kepada Tuhan dan jalan-Nya. Kita berharap masa ini dapat kita jalani sebagai masa yang penuh rahmat, yang memperdalam iman kita, yang menjadikan diri kita pribadi yang semakin merdeka dan semakin dekat dengan Tuhan, dan berbuah hasil dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Bagi saudari dan saudara yang mendapat kesempatan untuk bekerja dalam tata pemerintahan, masa Prapaskah adalah kesempatan untuk mengembangkan dan melaksanakan keyakinan bahwa bekerja di kantor-kantor pemerintah berarti menjalankan pelayanan publik demi kesejahteraan bersama. Itulah yang dikatakan dalam sila kelima Pancasila, “Kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Ini adalah amanah yang harus dijunjung tinggi. Bagi saudari dan saudara yang berkecimpung dalam dunia bisnis, masa Prapaskah adalah kesempatan yang khusus untuk semakin menyadari dan melaksanakan prinsip fairness. Dengan demikian semua pihak yang terlibat akan mendapatkan keuntungannya masing-masing secara adil dan benar. Sementara itu kita semua adalah bagian dari masyarakat warga. Kehidupan kita bersama sebagai warga masyarakat akan semakin damai dan sejahtera kalau kita dapat bersama-sama membangun dan mengembangkan sikap saling percaya, saling menghormati di tengah-tengah berbagai perbedaan dan keragaman yang harus diakui.

4. Kecuali menjalani masa Prapaskah secara pribadi, baik juga diusahakan agar masa penuh rahmat ini dijalani bersama-sama dalam keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah, stasi atau paroki. Dengan menghayati bersama masa Prapaskah, keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah, stasi atau paroki diharapkan dapat berkembang menjadi minoritas yang kreatif – artinya kelompok kecil yang hidup dengan habitus baru (misalnya pola berpikir, pola bertindak, pola ber-relasi) yang dibangun atas dasar Injil (Ardas KAS al.2). Dengan demikian kita boleh berharap, - sebagaimana ditulis oleh St. Paulus, - keluarga dan komunitas kita dapat menjadi “surat Kristus … yang ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup” (2 Kor 3:3). Atau seperti halnya batu kecil yang dilemparkan ke dalam air, menimbulkan gelombang-gelombang kecil yang semakin melebar, kita berharap keluarga dan komunitas kita juga menebarkan gelombang-gelombang kecil “keadilan dan kebenaran … kasih setia dan kasih sayang” (Hos 2:18).

Ibu/Bapak, Saudari/saudaraku yang terkasih,

5. Akhirnya, saya mengajak agar sejauh mungkin saudari-saudara sekalian ikut hadir dan terlibat dalam pertemuan-pertemuan di lingkungan atau kelompok-kelompok lain dalam rangka masa Prapaskah ini. Semoga dengan demikian persaudaraan semakin diteguhkan. Saudari-saudara yang karena berbagai alasan tidak mungkin hadir dalam pertemuan-pertemuan seperti itu, diharapkan juga dapat mengisi masa penuh rahmat ini secara kreatif. Dalam semuanya itu, Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2006-2010 – dengan Nota Pastoral yang menjelaskannya - dapat dipakai sebagai bahan untuk didalami baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Terima kasih atas segala bentuk peran serta dan keterlibatan Ibu/Bapak, Saudari/saudara dalam pelayanan di Keuskupan Agung Semarang. Berkat Tuhan melimpah untuk keluarga-keluarga dan komunitas kita. Dan semoga Tuhan meneguhkan pekerjaan, pengabdian dan seluruh niat-niat baik kita.


Semarang, Februari 2006



+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Semarang


Wednesday, February 01, 2006

NAWALA PRAPASKAH

NGLAKONI PASA LAN SESIRIK,

AMRIH NGREMBAKANE
URIP BEBARENGAN ING MASYARAKAT



NAWALA PRAPASKAH
25/26 FEBRUARI 2006


Para Ibu/Bapak, para sedulur lan putra-putra kabeh kang kinasih ing Sang Kristus,

1. Kerep ana sedulur sing mundut priksa marang aku mengkene, “Rama, wekdal punika kathah papan-papan pangibadah enggal. Upacara-upacara agami ugi ketingal saya grengseng. Nanging kenging punapa kawontenaning masyarakat kok ketingalipun mboten saya tata lan tentrem? Malah raosipun ingkang kelampah inggih kosok wangsulipun”. Pitakonane cetha, ning wangsulane ora gampang. Salah sawijining wangsulan sing tak aturke biasane mengkene : akeh sing wis rumangsa cukup nindakake aturan-aturan upacara lan agama sacara lahir. Ning tanggung jawab kanggo mujudake pengandel sacara nyata ing tengah-tengahing urip sajroning masyarakat, ora ngono bae bisa ditindakake.

2. Besok dina Rebo, iku dina Rebo Awu. Bebarengan karo Pasamuwan Suci saindhenging jagat aku-panjenengan kabeh miwiti mangsa Prapaskah, mangsa pasa lan sesirik. Panjenengan kabeh priksa, pasa lan sesirik bisa mung mandheg ing tumindak lahir, pokoke netepi aturan-aturan; nanging uga bisa dadi wujud jeroning pangandel kang urip. Perangane Injil kang diwaosake mau (Mrk 2:18) bisa aweh keterangan. Kanggone murid-murid Dalem Gusti Yesus, laku pasa dadi srana kanggo mesu dhiri. Pepinginan-pepinginaning urip ora dituruti, kanggo nuduhake bilih manungsa ora kena dikuwasani utawa dadi baturing pepinginan-pepinginan. Kosokbaline, manungsa kudune nguwasani pepinginan-pepinginan mau. Srana laku pasa kang bener, manungsa dadi sangsaya mateng lan diwasa pangendale, sangsaya merdika lan cerak karo Gusti. Wohe, ati lan urip kang bungah. Beda yen dibandingake karo wong-wong Farisi. Laku pasa dadi srana kanggo ngegung-gungake diri pribadi. Kanthi mengkono sedulur-sedulur mau dadi ora merdika, malah dikuwasani lan dadi batur pepinginan-pepinginane dhewe. Wohe iya urip kumalungkung lan drengki.

Para Ibu/Bapak, para sedulur lan putra-putra kabeh kang kinasih ing Sang Kristus,

3. Aku lan panjenengan kabeh kepingin nglakoni pasa lan sesirik sacara bener. Pasa lan sesirik mula gandheng karo sedya ngengurangi, kaya ta ngengurangi dahar, ngunjuk, blanja lan sapiturute. Nanging intining pasa lan sesirik iku laku pamartobat, ngenerake urip tumuju marang Gusti lan ngambah margi-margi Dalem. Muga-muga mangsa Prapaskah iki dadia mangsa kang kebak berkah. Uga dadi kesempatan kanggo nyantosakake pengandel, mbangun diri supaya dadi pribadi kang sangsaya mateng, diwasa, caket karo Gusti lan murakabi mungguhing urip bebarengan ing tengah-tengahing masyarakat. Kagem panjenengan sing ngasta ing pemerintahan, mangsa Prapaskah dadia kesempatan kanggo ngandelake lan mujudake keyakinan, bilih dadi punggawaning praja iku intine nyambut gawe kanggo kepentingane wong akeh, ngabdi masyarakat amrih tata-tentrem, karta lan raharjane. Kaya kang kesebut ing Pancasila, yaiku demi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Kanggo para sedulur kang makarya ing lingkungan usaha utawa bisnis, mangsa Prapaskah dadia kesempatan kanggo nyadari lan nindakake dagang kang jujur, tulus lan ora apus-apus. Sing dioyak ora mung bathine dewe, nanging bisaa kabeh entuk bagiane dewe-dewe kang adil. Kejaba iku, aku lan panjenengan kabeh iku dadi bagianing masyarakat, kang werna-werna kahanan lan watake. Urip bebarengan ing tengah-tengahing masyarakat bakal tentrem lan rahayu yen aku lan panjenengan bisa urun-urun ngrembakakake semangat paseduluran kang sejati, pada urmat-kinurmatan lan pada dene bisa dipercaya.

4. Kejaba ditanggapi sacara pribadi, mangsa Prapaskah iki uga perlu ditanggapi bebarengan, ing tengah-tengahing brayat, komunitas wihara, lingkungan, wilayah, stasi utawa paroki. Kanthi mengkono brayat, komunitas wihara, lingkungan, wilayah, stasi utawa paroki bisa ngrembaka dadi sing disebut minoritas kreatif – tegese kelompok cilik kang uripe dilandhesi habitus anyar (upamane cara mikir, tumindak, rasa pangrasa anyar) kang kabangun adhedhasar Injil (Ardas KAS al. 2). Yen mengkono, kaya kang sinerat dening Santo Paulus, brayat lan komunitas kita bisa dadi “layang kang sinerat ing Sang Kristus…tinulis nganggo Rohing Allah asipat gesang” (2 Kor 3:3). Utawa, kayadene watu kang diuncalake ana ing banyu nyebabake gelombang-gelombang cilik kang saya suwe saya amba, semono uga brayat lan komunitas kita bisaa nyebarake “kang adil lan bener … asrih tresna lan kawelasan” (Hos 2:18).

Para Ibu/Bapak, para sedulur lan putra-putra kabeh kang kinasih ing Gusti,

5. Kanggo mungkasi nawala iki, aku ngaturi panjenengan kabeh sabisa-bisa ngrawuhi pertemuan-pertemuan ing lingkungan utawa kelompok-kelompok liya, kanggo nggrengsengake mangsa Prapaskah iki. Muga-muga kanthi mengkono paseduluran ing lingkungan lan kelompok-kelompok mau keteguhake. Panjenengan sing merga kahanan ora bisa ngrawuhi pertemuan-pertemuan mau, bisaa mijekake wektu mirunggan ndadekake mangsa Prapaskah iki kebak berkah. Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2006-2010 kang nembe bae diresmekake, - lan Nota Pastoral kang katulis kanggo nerangake Ardas mau - bisaa dadi cekelan kanggo kaperluan-kaperluan mau. Matur nuwun marang panjenengan kabeh, kang kanthi cara beda-beda lan werna-werna ngrembakakake Pasamuwan Suci ing Keuskupan Agung Semarang. Muga-muga berkat Dalem Gusti tansah luber-luber kagem panjenengan, brayat panjenengan lan komunitas panjenengan, lan muga-muga Gusti kersaa neguhake pakaryan lan pangabdi kita kabeh. Berkah Dalem!


Semarang, Februari 2006


+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Semarang


Wednesday, January 25, 2006

Puasa menurut Alkitab

BERPUASA MENURUT KITAB SUCI

Oleh: Rm. Indra Sanjaya Pr


Asal usul dari berpuasa sebagai suatu tindakan moral dan religius sebenarnya tidak jelas. Ada yang berpendapat bahwa asal-usul puasa adalah kebiasaan meninggalkan makanan untuk orang yang meninggal, sehingga mereka dapat memakannya. Ada juga yang berpendapat bahwa berpuasa adalah kebiasaan orang primitif yang menjadi sarana untuk mendapat mimpi atau penglihatan sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan dunia spiritual. Berpuasa juga sering dianggap sebagai suatu persiapan untuk ikut serta dalam perjamuan kudus dalam upacara keagamaan. Begitu beragam pendapat yang muncul sehingga tidak mungkin didapat suatu kesimpulan yang pasti berdasarkan teks-teks Kitab Suci. Oleh karena itu, uraian ini akan didasarkan pada teks-teks biblis di mana tindakan berpuasa disebutkan, kemudian dibuat suatu gambaran sintetis.

I. TERMINOLOGI

a. Dalam Perjanjian Lama.

Kata yang paling sering dipakai tsam (bandingkan dengan kata siam, saum yang berasal dari bahasa Arab) (Neh 9,1 ; 2Sam 12,21.23) Dalam bahasa aslinya, kata ini menunjukkan tidak makan sama sekali. Kata inilah yang hampir selalu dipakai dalam narasi pra-pembungan, dalam kitab para nabi, dan juga dalam mazmur. Kata atau ungkapan lain yang juga dipakai tetapi tidak sangat frekwen adalah ; tidak makan apa-apa (Har: tidak makan roti) (1Sam 28,20 ; 2Sam 12.17) dan merendahkan diri (1Raj 21,29). Akan tetapi sinonim yang paling sering digunakan adalah ungkapan merendahkan diri sendiri (diterjemahkan dalam LAI dengan merendahkan diri dan berpuasa) (Im 16,29). Ungkapan ini menjadi istilah teknis untuk berpuasa dalam tulisan-tulisan Priester, dan cenderung menjadi ungkapan baku dalam periode selanjutnya.

B. Dalam Perjanjian Baru

Kata kerja yang dipakai baik dalam LXX maupun dalam Perjanjian Baru adalah nesteuo (Mat 9,15 ; Luk 5,33). Kata ini selalu dipakai dalam konteks hidup keagamaan, sebagai salah satu kegiatan religius. Sementara Paulus dalam dua kesempatan menggunakan kata ini hanya untuk menunjukkan rasa lapar karena keterpaksaan (2Kor 6,5 ; 11,27). Hal ini menunjukkan bahwa makna dasar sebenarnya dari kata berpuasa adalah tanpa makanan, lapar atau tidak makan. Kata ‘menjauhkan diri dari makanan’ (Kis 15,29 ; 1Tim 4,3) nampaknya dipakai untuk menunjukkan tidak makan makanan tertentu dan bukan berpuasa dalam arti umum.

II. BERPUASA PADA PERIODE SEBELUM PEMBUANGAN

Kendati berpuasa sudah dipraktekkan sejak jaman kuno oleh orang Israel, sebenarnya tidak banyak teks yang dengan pasti menunjuk praktik tersebut pada zaman sebelum pembuangan. Memang dalam banyak teks yang menceriterakan peristiwa sebelum pembuangan, bisa ditemukan rujukan terhadap berpuasa, tetapi kebanyakan dari teks-teks tersebut berasal dari periode kemudian. Pada periode awal, berpuasa dianggap sebagai suatu yang wajar dilakukan, dan baru pada periode kemudian diyakini sebagai suatu tindak keutamaan pribadi.

A. Berpuasa sebagai tindakan individual.

Sebenarnya tidak ada petunjuk bahwa berpuasa dianggap sebagai suatu tindak keutamaan pribadi dalam periode sebelum pembuangan. Puasa yang dilakukan oleh seseorang selalu dikaitkan dengan suatu kesempatan tertentu, dan biasanya diiringi oleh tindakan perendahan diri yang lain seperti misalnya memakai kain kabung. Nampaknya tindakan berpuasa seperti dimaksudkan untuk memohon belas kasih Allah sendiri, baik dalam situasi sulit atau dalam konteks pertobatan. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam kisah Daud di mana tindakan berpuasa cukup sering muncul, yaitu ketika Daud bersusah hati karena anaknya yang dilahirkan oleh Bethseba (2Sam 12,16-23). Keheranan para pembantu Daud atas perubahan sikap sang raja setelah si anak meninggal, menunjukkan bahwa tindakan berpuasa merupakan kebiasaan umum dalam perkabungan. Nampaknya alasan untuk memohon belas kasih ilahi juga terdapat di balik tindakan Ahab yang berpuasa setelah Elia menyatakan hukuman Allah kepada dia dan istrinya Izebel setelah peristiwa kebun anggur Nabot (1Raj 21,27).

Sejak zaman kuno, berpuasa kiranya juga merupakan suatu yang biasa dilakukan sebagai persiapan untuk menerima komunikasi dari yang Ilahi entah melalui mimpi, melalui penglihatan atau sarana yang lain. Seperti Saul misalnya, dia berpuasa dalam kaitannya untuk mencari komunikasi dari Yang Ilahi, Akhirnya Saul memang pergi kepada perempuan yang biasa memanggil arwah (1Sam 28,20). Musa dan Elia berpuasa sebagai sarana persiapan diri untuk menerima komunikasi dari Allah sendiri (Kel. 34,26 ; 1Raj 19,8

B. Berpuasa sebagai tindakan publik.

Hanya dalam teks-teks dari periode sesudah pembuangan kita menemukan ceritera tentang puasa yang dilakukan oleh seluruh komunitas. Kendati demikian, hal ini tidak berarti bahwa dalam periode sebelum pembuangan tidak ada praktik puasa secara komuniter. Pada hari raya Pendamaian (yom kippurin) umat Israel dituntut untuk berpuasa (Im 16,29). Berdasarkan data yang ada kita tidak bisa mengetahui dengan pasti bahwa praktik tersebut sudah dilaksanakan pada masa sebelum pembuangan. Tetapi di lain pihak, nampaknya upacara tersebut bukan merupakan ciptaan belaka dari tradisi Priester. Dengan kata lain, mungkin saja praktik tersebut sudah dilaksanakan sebelum pembuangan, meski bisa jadi bentuknya tidak seperti hari raya Pendamaian seperti diuraikan dalam Im 16.

Dalam periode sebelum pembuangan puasa publik yang dikisahkan selalu merupakan suatu tindakan spontan yang didorong oleh keperluan pada suatu kesempatan tertentu. Nampaknya puasa publik ini merupakan kebiasaan pada saat berkabung, seperti diceriterakan dalam 1 Sam 31,13 dan 2Sam 1,12 sehubungan dengan kematian Saul dan Jonathan. Seperti puasa individual, puasa publik juga diadakan untuk memohon belas kasih atau bantuan Yang Ilahi dalam kasus yang sangat mendesak, seperti misalnya sebelum perang atau sesudah terjadi bencana (Hak 20,26 ; 1Sam 14,24 ; 2Taw 20,3). Berpuasa, baik secara individual maupun publik, dapat juga merupakan ungkapan pertobatan (1Sam 7,6). Dalam kisah kebun anggur Nabot, puasa publik yang diadakan mungkin merupakan ungkapan pertobatan atas ketidak-beresan yang terjadi dalam komunitas, kendati kita tahu bahwa ini sebenarnya adalah bagian dari rencana Izebel. Paling tidak ada kebiasaan berpuasa secara publik sebagai tanda bertobat. Mungkin satu-satunya tindakan berpuasa pada periode sebelum pembuangan, yang bisa ditafsirkan menunjuk suatu momen tertentu (dalam bulan kesembilan?) adalah yang diceriterakan dalam Yer 36,6.9 yang dikaitkan dengan pembacaan gulungan tulisan Yeremia oleh Barukh. Memang hal ini tidak bisa dipastikan seratus persen, karena bisa saja penyebutan puasa dalam teks Yeremia itu ditambahkan kemudian untuk menambah kemegahan dan keagungan peristiwa pembacaan teks Yeremia itu.

Bisa dikatakan bahwa pada periode sebelum pembuangan, puasa publik ini bisa merupakan suatu yang diadakan secara sepontan untuk mengungkapkan suatu perasaan yang dalam (1Sam 31,13) atau bisa juga diumumkan oleh seroang raja (1Taw 20,3). Mungkin puasa seperti berlangsung selama seminggu (1Sam 31,13) atau seperti dilakukan orang-orang Islam sampai saat ini, bisa juga mereka berpuasa sampai matahari terbenam (2Sam 1,12). Seperti pada puasa individual, puasa publik juga bisa diiringi dengan ungkapan lain seperti menangis dan mempersembahkan korban atau mengoyakkan pakaian (Hak 20,26), 1Sam 7,6 ; 2Sam 1,11).

BERPUASA PADA PERIODE SESUDAH PEMBUANGAN

Pada periode inilah puasa publik juga terdapat dalam Yudaisme dilaksanakan, dan puasa individu mulai menjadi suatu ungkapan keselamatan rakyat.

A. Puasa Publik.

Puasa publik yang spontan pada kesempatan perkembangan masih terus dilaksanakan. Puasa seperti ini bisa merupakan suatu permohonan yang diumumkan oleh pemimpin komunitas (Ezr 8,21-23 ; 1 Mak 3,47 ; 2Mak 13,12). Puasa juga tetap bisa menjadi ungkapan pertobatan seperti ungkapan oleh kitab Yunus (Yun 3,5), dan juga sebagai sarana yang digunakan oleh Jemaat untuk memohon belas kasih Ilahi dalam kesulitan (Est 4,3.16). Kitab nabi Yoel menunjukkan bahwa bencana seperti belalang, bisa menjadi alasan untuk melaksanakan puasa raya, yang tidak hanya memohon bantuan bantuan dalam kesulitan tetapi sekaligus merupakan ungkapan pertobatan dan mohon belas kasih menjelang hari Tuhan (Yoel 1,14 ; 2,12.15). Puasa seperti ini, seperti pada periode sebelumnya, bisa diiringi dengan berbagai ungkapan perendahan diri seperti menangis, memakai kain kabung dan abu.

Masuknya puasa publik sebagai suatu peraturan yang terdapat dalam kalender liturgi Yahudi merupakan hasil dari gerakan pembaharuan religius yang muncul pada periode sesudah pembuangan. Diperkirakan bahwa sebenarnya puasa publik seperti itu sudah dilaksanakan juga dalam periode sebelum pembungan, akan tetapi bahwa hal itu menjadi peraturan resmi di antara orang Yahudi adalah hasil dari gerakan keagamaan yang mengarah kepada Yudaisme normatif sesudah pembuangan. Dalam kitab nabi Zakharia disebutkan empat dari puasa publik resmi, “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Waktu puasa dalam bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai” (Za 8,19 ; bdk. 7,3-5). Penutup pada kitab Ester menunjukkan bahwa puasa publik dilakukan sebagai persiapan hari raya Purim, “supaya hari-hari Purim itu dirayakan pada waktu yang ditentukan, seperti yang diwajibkan kepada mereka oleh Mordekhai, orang Yahudi itu, dan oleh Ester, sang ratu, dan seperti yang diwajibkan mereka kepada dirinya sendiri serta keturunan mereka, mengenai hal berpuasa dan meratap-ratap” (Est 9,31 bdk.juga 4,3.16).

Hari raya Perdamaian, yang diduga sudah dilaksanakan pada periode sebelum pembuangan, merupakan kesempatan kesempatan utama untuk berpuasa secara publik dalam Yudaisme post-pembuangan (Im 26,29.31; 23,27.29.32 ; Bil 29,7). Puasa yang diadakan pada hari itu merupakan ungkapan pertobatan yang mengiringi pengakuan dosa Israel dan persiapan bagi upacara pendamaian. Kendati mungkin tidak menunjuk pada hari raya Pendamaian, puasa publik yang disebut dalam Neh 9,1 “Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan menggunakan kain kabung dan tanah di kepala”, nampaknya juga merupakan salah satu kesempatan resmi di mana Israel sebagai komunitas mengadakan pertobatan umum atas dosa-dosa mereka.

B. Puasa pribadi sebagai tindakan kesalehan.

Kebiasaan berpuasa lama sebagai ungkapan berkabung, pertobatan dan permohonan, nampaknya masih terus berlangsung dalam periode post-pembuangan (Ezr 10,6 ; Neh 1,4 ; Dan 9,3). Berpuasa juga tetap dipandang sebagai suatu tetap dipandang sebagai suatu persiapan yang baik untuk menerima komunikasi Ilahi yang datang dalam bentuk penglihatan (Dan 10,3). Akan tetapi, seiring dengan berlalunya waktu, puasa pribadi menjadi suatu ungkapan resmi kesalehan di dalam Yudaisme, dan dianggap suatu praktik devosi, lepas dari ada tidaknya motif-motif khusus (Mzm 35,13 ; 69.10). Menjadi kebiasaan orang-orang saleh untuk berpuasa pada hari kedua dan kelima dalam minggu (Luk 18,12 ; Dicache 8,1), bahkan ada juga orang-orang yang berpuasa lebih dari dua hari itu! Nilai dari berpuasa seperti ini banyak ditunjuk dalam literatur Yahudi (Tob 12,8 ; Testament of Reuben 1,10 ; Testament of Simean 3,4 dll.) Sementara Perjanjian Baru mencerminkan bagaimana puasa menjadi suatu yang penting bagi kelompok-kelompok dalam Yudaisme (Mat 6,16 ; Mrk 2,18). Salah satu dokumen yang ditemukan di Qumran juga menggambarkan bahwa kelompok-kelompok khusus dalam Yudaisme juga melaksanakan puasa pribadi. Bahkan dalam periode pertama kekristenan berpuasa diidentikkan dengan menjadi Yahudi, sehingga kaisar Agustus pernah memegahkan diri dengan mengatakan bahwa dia berpuasa lebih dari seorang Yahudi. Tekanan kuat pada praktik berpuasa ini nampaknya lebih ber-akar pada ajaran Perjanjian Lama dan bukan pertama-tama bergantung atau dipengaruhi faham dualisme Yunani. Tentu saja motif ini juga tidak seratus absen khususnya di antara kaum Yahudi dalam Yudaisme Hellenistis, khususnya yang berada di Alexandria.

C. Berpuasa dalam tradisi kenabian.

Satu-satunya teks yang berasal dari periode sebelum pembuangan, yang menyebut ‘puasa’ adalah Ye 14,12. Tidak munculnya rujukan pada tindak berpuasa ini dalam tradisi kenabian sebelum pembuangan mungkin bisa menunjukkan bahwa pada periode tersebut, puasa masih belum mendapatkan tempat yang penting seperti pada periode post-pembuangan. Rujukan pada puasa dalam kitan para nabi selain Yoel terdapat misalnya, dalam kitab Yes 58,3-4 dan Za 7,5 yang menggambarkan siatuasi kekecewaan pada periode awal post-pembuangan, karena kegagalan Israel untuk menata bangsa kembali di tanah air mereka. Jika dalam tradisi kenabian ditemukan kritik terhadap puasa, harus disadari bahwa bukan puasanya yang dikritik, tetapi sikap batin yang tidak tulus (Yoel 2,2-13

BERPUASA DALAM PERJANJIAN BARU

Banyak teks-teks PB yang menggambarkan sikap Yesus terhadap berpuasa, dan sekaligus bagaimana Dia dan orang-orang kristen awal, menerima begitu saja puasa sebagai suatu tindakan kesalehan.

A. Ajaran Yesus tentang puasa

Konteks di mana kata puasa muncul menunjukkan bahwa sikap Yesus terhadap puasa sejalan dengan pewartaan para nabi yang menekankan ketulusan hati. Akan tetapi sekaligus tampak juga bahwa keyakinan Yesus akan hubungan yang erat antara perutusan-nya dengan datangnya Kerajaan Allah tidak memberi banyak kesempatan untuk memperhatikan secara detail praktik-praktik kesalehan yang ada.

Yesus berpendapat, sejajar dengan Yes 58,3-4, bahwa puasa, seperti juga ungkapan kesalehan lainnya, merupakan sesuatu yang dilakukan demi kemulian Allah sendiri dan bukan menjadi sarana untuk mendapatkan kekaguman dari orang lain (Mat 6,16-18 ; bdk. Luk 18,9-14). Harus diperhatikan bahwa dalam dirinya sendiri berpuasa tidak dikutuk. Yesus menekankan, seperti juga para nabi, bahwa Allah tidak memandang aktivitas luaran, tetapi sikap batin. Nilai puasa, dan juga ungkapan religius lainnya, terletak pada devosi yang diuangkapkan. Tanpa adanya devosi ini, puasa tidak berarti!

Seri kedua dari kata-kata Yesus tentang puasa memberi suatu tekanan lain. Ajaran Yesus tentang berpuasa ini disampaikan sebagai tanggapan atas pertanyaan yang diajukan ‘mengapa murid-muridMu tidak berpuasa?’ Yesus menolak untuk memberikan suatu gambaran detil tentang makna atau peraturan tentang berpuasa. Alasannya adalah bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan melalui kehadiran dan kata-kataNya hanya membawa kegembiraan dan syukur. Tak ada lagi kesempatan untuk memikirkan hal-hal lain. Bagian kedua dari kata-kata Yesus ini. ‘Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa’ (Mrk 2,20 ; par), tak bisa disangkal bahwa ungkapan ini mendukung lahirnya tradisi berpuasa dalam komunitas kristen.

Melihat kenyataan bahwa Yesus dan murid-muridNya begitu setia mengikuti ritus dan kebiasaan-kebiasaan Yudaisme, Yesus nempaknya memang mengikuti tradisi berpuasa seperti itu dalam kaitannya dengan hari raya Pendamaian. Mungkin Yesus juga berpuasa dalam menghadpi krisis spiritual seperti yang dikisahkan dalam percaobatan (Mat 4,2 ; Mrk 1,13). Tetapi ajaran Yesus tentang berpuasa, seperti kita lihat, sejajar dengan apa yang dinubuatkan para nabi akan tetapi dengan nuansa eskatologis yang agak berbeda.

B. Berpuasa dalam Gereja Perdana.

Rujukan paling jelas terhadap berpuasa sebagai suatu tindakan religius yang dilakukan oleh jemaat Kristen awal mengaitkan puasa dengan saat-saat berdoa (Kis 13,2-3 ; 14,23). Penggunaan kata puasa dalam surat-surat paulus, nampaknya hanya mau menunjukkan ‘tidak makan’ karena memang tidak ada (2Kor 6,5 ; 11,27). Tidak perlu diragukan bahwa dalam kehidupan jemaat Kristen, berpuasa segera saja dianggap sebagai suatu tindakan kesalehan yang dianjurkan. Dalam literatur-literatur lain dikatakan bahwa puasa sebelum pembaptisan sudah dilaksanakan sejak awal, dan orang-orang kristen diajak untuk juga berpuasa dua kali seminggu, seperti yang dilakukan orang Yahudi, yaitu pada hari Rabu dan Jumat.

Sunday, January 22, 2006

PUASA dan PANTANG - pemahaman

PUASA adalah tindakan sukarela
Tidak makan atau tidak minum
Seluruhnya, yang berarti sama sekali tidak makan atau minum apapun
Atau sebagian, yang berarti mengurangi makan atau minum.

  • Secara kejiwaan, Berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa.
  • Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan.
  • Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya.
  • Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau.
  • Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi. Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan.


Itulah sebabnya, puasa Katolik selalu terlaksana bersamaan dengan doa dan derma, yang terwujud dalam Aksi Puasa Pembangunan.
Semangat yang sama berlaku pula untuk laku PANTANG.
Yang bukan semangat puasa dan pantang Katolik adalah:

  • Berpuasa dan berpantang sekedar untuk kesehatan: diet, mengurangi makan dan minum atau makanan dan minuman tertentu untuk mencegah atau mengatasi penyakit tertentu.
  • Berpuasa dan berpantang untuk memperoleh kesaktian baik itu tubuh maupun rohani.

SABDA TUHAN SEHUBUNGAN DENGAN PUASA

"Melalui nabi Yesaya, Tuhan bersabda:
Berpuasa yang Kukehendaki ialah,
Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman
Dan mematahkan setiap kuk
Supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya
Dan mematahkan setiap kuk,
Supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar
Dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak mempunyai rumah
Dan apabila kamu melihat orang telanjang
Supaya engkau memberi dia pakaian
Dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
Pada waktu itulah
Engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab
Engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku
Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu
Dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah
Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri
Dan memuaskan hati orang tertindas
Maka terangmu akan terbit dalam gelap
Dan kegelapanmu akan seperti bintang rembang tengah hari"


Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda tentang puasa:
“Apabila kamu berpuasa,
Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu
Dan cucilah mukamu
Supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa
Melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.
Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Saturday, January 21, 2006

PUASA dan PANTANG - peraturan

Orang Katolik wajib berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Suci. Jadi, selama masa Prapaskah, kewajiban puasa hanya dua hari saja.

Yang wajib berpuasa adalah semua orang beriman yang berumur antara delapan belas (18) tahun sampai lima puluh sembilan (59) tahun.

PUASA berarti:
makan kenyang hanya satu kali dalam sehari.
Untuk yang biasa makan tiga kali sehari, dapat memilih
• Kenyang, tak kenyang, tak kenyang, atau
• Tak kenyang, kenyang, tak kenyang, atau
• Tak kenyang, tak kenyang, kenyang

Orang Katolik wajib berpantang pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat sampai Jumat Suci. Jadi hanya 7 hari selama masa PraPaskah.
Yang wajib berpantang adalah semua orang katolik yang berusia empat belas (14) tahun ke atas.

PANTANG berarti
• Pantang daging, dan atau
• Pantang rokok, dan atau
• Pantang garam, dan atau
• Pantang gula dan semua manisan seperti permen, dan atau
• Pantang hiburan seperti radio, televisi, bioskop, film.


Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang,
sesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun,
umat beriman,
baik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok,
dianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. Penetapan yang dilakukan diluar kewajiban dari Gereja, tidak mengikat dengan sangsi dosa.

Dalam rangka masa tobat, maka pelaksanaan perkawinan juga disesuaikan. Perkawinan tidak boleh dirayakan secara meriah.

Pantang dan Liturgi

PUASA dan PANTANG dalam SIMBOL

Ada tradisi yang mengandung perlambangan indah berkaitan dengan puasa dan pantang:

Pantang MULUT: mengurangi makan diawali para hari Rabu Abu

Pantang RASA: daging/garam/gula/rokok/hiburan diawali pada hari Rabu Abu dan setiap Jumat selama masa prapaska

Pantang MATA: semua patung dan gambar di gereja ditutup dengan kain ungu, terkecuali gambar2 jalan salib, diawali pada hari minggu sebelum Minggu Palma.

Pantang TELINGA: tidak ada lagi bunyi2an di dalam gereja, diawali sesudah Misa Kamis Putih, saat tuguran. Perhatikan bahwa Ibadah Jumat Suci suasananya menjadi hening dan kosong. Demikian juga Sabtu pagi sampai menjelang Ekaristi Malam Paskah suasana tetap hening dan kosong.

Semua pantang itu berakhir dalam Perayaan Ekaristi Malam Paskah.

Selamat menggunakan simbol-simbol yang indah ini.

Friday, January 20, 2006

VISI APP

VISI AKSI PUASA PEMBANGUNAN

PUASA DAN PERTOBATAN

Visi itu menyangkut diri sendiri dan hubungan dengan sesama/lingkungan


PADA DIRI SENDIRI
  • TERJADI PERBAIKAN PERILAKU HIDUP MANUSIA BERIMAN

PADA ORANG LAIN/LINGKUNGAN
  • MENJADI RAGI DUNIA
  • MENJADI GARAM DUNIA

Thursday, January 19, 2006

MISI Aksi Puasa Pembangunan

MISI AKSI PUASA PEMBANGUNAN

MEMBANGUN KERAJAAN ALLAH

Pembangunan Kerajaan Allah itu terlaksana, baik persiapan, pelaksanaan, maupun sampai buah hasilnya, dengan

MEMPERJUANGKAN
  • KEDAMAIAN
  • KEADILAN SOSIAL
  • KESEJAHTERAAN
Dan juga dengan

MENJALIN KERJASAMA DENGAN ORANG-ORANG LAIN DENGAN KELOMPOK-KELOMPOK LAIN

Wednesday, January 18, 2006

AKSI APP

Sebagaimana namanya, APP pada dasarnya adalah sebuah aksi, tindakan, kegiatan, karya yang nyata. Berbagai kegiatan nyata APP adalah:

Keikutsertaan secara aktif dalam pertemuan-pertemuan yang mengolah tema APP dalam kehidupan bersama, seperti:
  • PERTEMUAN PENDALAMAN KITAB SUCI
  • PENATARAN PEMBINA AKSI PUASA PEMBANGUNAN
  • Tetapi juga aneka pertemuan, sarasehan lainnya
Setelah atau bersamaan dengan pertemuan-pertemuan dapat dilaksanakan berbagai kegiatan seperti:
  • KERJA BAKTI PEMBUATAN JALAN TEMBUS
  • DUKUNGAN BAGI PENGADAAN SARANA PENANGKAPAN DAN PENGAWETAN IKAN LAUT BAGI KELOMPOK USAHA TANI NELAYAN
  • PENYEDIAAN RUMAH MURAH SECARA ARISAN
  • MENYEDIAKAN SARANA UNTUK KEPENTINGAN UMUM SEPERTI KAMAR MANDI, WC, BAK AIR
  • MEMBUAT JEMBATAN
  • DALAM RANGKA PEMBUKAAN RUMAH BERSALIN DIADAKAN KITANAN MASAL
  • KEGIATAN YANG BERSIFAT PELATIHAN
  • PELATIHAN UNTUK PEMBINAAN BAYI SEHAT
  • PELATIHAN PEMBUATAN GENTING BAGI PARA MUDA MUDI
TERMASUK JUGA KEGIATAN APP ADALAH
  • PENGUMPULAN DANA UNTUK PELAKSANAAN AKSI-AKSI ATAU KEGIATAN-KEGIATAN APP

Tuesday, January 17, 2006

TINDAK LANJUT APP

  • AKSI PUASA PEMBANGUNAN ATAU APP BUKANLAH AKSI SESAAT SAJA, TETAPI BERKELANJUTAN
  • SESUDAH PASKAH APP SEHARUSNYA MEMBANGUN UMAT UNTUK TERUS MELAKSANAKAN TUGAS PEMBANGUNAN BAIK MATERIIL MAUPUN SPIRITUIL
  • APP SEHARUSNYA JUGA MENGGALANG KESWADAYAAN MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN
  • DANA APP YANG TERKUMPUL SELAMA MASA APP SEHARUSNYA DIPAKAI SEMAKSIMAL MUNGKIN BAGI PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MAKSUD TERSEBUT DI ATAS
  • DIHARAPKAN BAHWA PARA PASTOR DAN PEMIMPIN GEREJA LAINNYA, DEWAN PAROKI DAN SEMUA APARATNYA DAPAT MEMAHAMI, MENGERTI, SECARA BENAR GERAKAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN DAN MEMBERIKAN DUKUNGAN YANG SEPANTASNYA

Monday, January 16, 2006

Keliru paham Aksi Puasa Pembangunan

Ada yang KELIRU memahami APP

Hanya sebagai KEGIATAN RITUAL GEREJA seperti
  • PENDALAMAN KITAB SUCI
  • IBADAT PRAPASKAH
  • PERTEMUAN2 DOA LINGKUNGAN LAINNYA
YANG LAIN LAGI MELIHAT APP ADALAH
  • KEGIATAN MENGUMPULKAN AMPLOP PERSEMBAHAN/KOLEKTE
YANG LAIN MELIHAT
  • APP SELESAI SETELAH PASKAH sesudah itu Gereja tak mau tahu lagi perkembangan komunitas basis
ADA YANG MELIHAT APP
  • SEMATA-MATA sebagai PENGUMPULAN DANA SOSIAL

Sunday, January 15, 2006

Keliru paham tentang Dana APP

ADA SEMENTARA ORANG ATAU KELOMPOK YANG

  • Memakai dana APP UNTUK KEPENTINGAN KELOMPOK SENDIRI. Merasa bahwa kelompok yang mengumpulkan dana, maka berhak memakai dana itu untuk kebutuhan kelompoknya.
  • Memakai dana APP UNTUK KEGIATAN-KEGIATAN YANG TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN APP tetapi UNTUK KEGIATAN-KEGIATAN RUTIN DALAM MASYARAKAT
  • Memakai dana APP UNTUK KEPERLUAN GEREJANYA SENDIRI: DANA APP JUSTRU DIPAKAI UNTUK PERBAIKAN-PERBAIKAN GEDUNG GEREJA/PASTORAN
  • TIDAK MEMANFAATKAN SEBAIK-BAIKNYA DANA APP UNTUK KEGIATAN APP tetapi JUSTRU DISIMPAN DI BANK ATAU DIDEPOSITOKAN SEHINGGA KEGIATAN APP TIDAK DAPAT BERLANGSUNG DENGAN BAIK ATAU MALAHAN TIDAK DAPAT DILAKSANAKAN

Tuesday, January 10, 2006

APP 2006 - Pemahaman Dasar

AKSI PUASA PEMBANGUNAN
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2006

KORUPSI, DUSTA TERHADAP ALLAH DAN MANUSIA!



Pengantar

Selama lima tahun terakhir ini, kita bergulat mewujudkan cita-cita kita sebagai Gereja Keuskupan Agung Semarang yakni semakin setia mengikuti Yesus Kristus, dalam bimbingan Roh Kudus, memaklumkan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Pergulatan itu diwujudkan dengan mengalami kehadiran Allah dalam doa maupun dalam peristiwa hidup sehari-hari. Hasil yang pantas kita syukuri adalah terbentuknya paguyuban-paguyuban dalam masyarakat serta semakin luasnya jaringan kerja sama antar paguyuban dan dengan pihak-pihak yang berkehendak baik.

Sisi keprihatinan yang melukai hati masyarakat pada umumnya, dan khususnya masyarakat kecil, lemah, miskin dan tersingkir, dibahas secara panjang lebar dalam Nota Pastoral Dewan Karya Pastoral KAS 2005 dan Nota Pastoral KWI 2004. Situasi pokok yang kita hadapi adalah adanya kerusakan keadaban yang berupa kerusakan alam, kekerasan, dan korupsi.

Pada tahun ini kita mempunyai Arah Dasar Umat Allah yang baru [2006-2010] yang menegaskan adanya persoalan besar yang merupakan arena pergulatan dan perjuangan masyarakat yakni dunia kekerasan, korupsi, dan kerusakan lingkungan. Ketiga persoalan besar itu bukan hanya merupakan urusan pribadi tetapi urusan nasional. Salah satu persoalan yang menjadi fokus perhatian Panitia APP KWI adalah persoalan korupsi yang kemudian diolah menjadi tema APP Nasional pada tahun 2006 ini yaitu "Budaya Bebas Korupsi". Dan Panitia APP KAS bersama dengan pihak-pihak yang mempersiapkan bahan pendalaman APP merumuskan tema APP 2006 :
"KORUPSI, DUSTA TERHADAP ALLAH DAN MANUSIA".


1. Pengalaman Hidup

Maraknya korupsi dari tahun ke tahun hingga membudaya di dalam perilaku kehidupan berbangsa dan bernegara kita sungguh menjadi keprihatinan banyak pihak. Keprihatinan itu muncul dalam bentuk demo entah dari elemen mahasiswa atau masyarakat luas. Mengapa korupsi bisa demikian terjadi. Mungkin orang bertanya, bukankah Indonesia itu sebuah bangsa yang masyarakatnya pemeluk agama semua' Bagaimana tindak amoral yang hanya memperkaya diri, egois, tidak solider semacam korupsi ini bisa terjadi ' Bahkan bagaimana korupsi telah begitu membudaya dengan aneka ragam bentuk dan cara, bagaimana 'uang amplop' menjadi alat yang ampuh untuk melicinkan segala urusan. Mungkin kita terhenyak dan tak percaya bahwa di bumi ini, Negara republik tercinta Indonesia pernah menduduki rangking 3 dalam kasus tingginya tingkat korupsi th 2003.
Rahman Ibn Khaldun dalam tulisannya abad 14 menuliskan bahwa 'akar penyebab korupsi' adalah nafsu untuk hidup bermewah-mewah di kalangan kelompok yang berkuasa. Untuk menutup pengeluaran yang mewah itulah maka kelompok yang penguasan melakukan tindak korupsi
Hal senada, 40 tahun yang silam Bung Hatta telah memperkenalkan istilah budaya korupsi, dan Prof Husain Alatas (Malaysia) menulis buku 'Sociology of Corruption' (di Indonesia) tentang perilaku korupsi cenderung mengalami perluasan, melanda semua bidang kehidupan bangsa. Itu berarti penegakan hukum sudah tidak mampu lagi sebagai alat pembrantasan korupsi dan kekuasaan imperatif itupun tak berdaya jika dihadapkan pada kekuatan besar yang dinamakan kolusi. Oleh karena itu korupsi lebih mudah dipahami dari segi budaya atau 'culture' dari pada aspek iuridis formalnya. 'Culture' di sini dimaksudkan bukan dalam arti 'value system' melainkan lebih menyentuh cara berpikir, cara bertindak, cara perilaku, cara berelasi antar orang di dalam masyarakat, pekerjaan di kantor dll. Maka tindakan menuntut pelaku korupsi sama artinya mencetak pelaku baru atau membangunkan pelaku-pelaku yang sedang 'tidur' dan kemudian berada pada kesadaran bahwa sebenarnya ada 'kue' yang bisa dibagi-bagi melalui korupsi. Dalam hal ini seringkali orang atau masyarakat tidak lagi melihat apa konsekuensi moral dari tindakan semacam itu.

2. Korupsi

Apakah korupsi itu' Istilah korupsi berasal dari bahasa latin 'coruptio' atau 'corruptus' yang berarti kerusakan atau kebobrokan. (Lih: Focus Andreas dalam Prodjo Hamidjoyo, 2001:7). Dalam bahasa Yunani, 'corruptio' berarti perbuatan yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma agama materiil, mental dan umum (Nurjana, 1990; 77). Pemahaman di atas merupakan pengertian yang sangat sederhana, yang tidak dapat dijadikan tolok ukur untuk menilai perbuatan korupsi itu sendiri. Lubis dan Scott (1993:19) sehubungan dengan hal ini, tentang korupsi, menyebutkan 'dalam arti hukum, korupsi adalah tingkah laku yang menguntungkan kepentingan diri sendiri dengan merugikan orang lain, yang dilakukan oleh pejabat pemerintah yang langsung melanggar batas-batas hukum'.
Tentang korupsi pasal 1 UU no. 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dijelaskan
  1. Barang siapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu Badan, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan dan perekonomian negara atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
  2. Barangsiapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu Badan, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan negara dan perekonomian negara.
  3. Barang siapa memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri seperti dimaksud di dalam pasal 2 dengan mengingat sesuatu kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatannya atau kedudukannya atau oleh si pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatannya atau kedudukannya.
Sedangkan di dalam UU yang sama Pasal 2, dijelaskan tentang pengertian 'korupsi' sebagai berikut:
  1. Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
  2. Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya kerena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Oleh karena itu unsur-unsur korupsi adalah:
  1. Tindakan melawan hukum.
  2. Menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongan.
  3. Merugikan negara baik secara langsung maupun tidak langsung
  4. Dilakukan oleh pejabat publik/penyelenggara maupun masyarakat.

'Maka berdasarkan pengertian tentang korupsi di atas dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan suatu perbuatan melawan hukum, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat merugikan perekonomian atau keuangan negara, yang dari segi materiil perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. Oleh karena itu berbicara tentang korupsi adalah berbicara tentang sudut lain dari matra keadilan yang kita bicarakan pada APP th 2005.
'Pengertian korupsi semacam ini seringkali tidak bisa dibedakan atau dicampuradukan dengan pengertian kolusi dan nepotisme (KKN). Hal ini disebabkan karena tiga perbuatan itu memiliki batasan yang sangat tipis dan dalam prakteknya seringkali menjadi satu kesatuan tindakan atau merupakan unsur-unsur dari perbuatan korupsi. Hal ini amat jelas disebutkan di dalam UU no 28 tahun 1999 Pasal 1 ayat 3,4,5 dengan penjabarannya:
  1. Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tindak pidana korupsi.
  2. Kolusi adalah pemufakatan atau kerja sama secara melawan hukum antara penyelenggara negara dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara.
  3. Nepotisme adalah setiap perbuatan penyelenggaraan negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
Akan tetapi hal yang pada dirinya amat jelas dirumuskan, seringkali pengertian hukum semacam ini tidak memiliki kekuatan sama sekali dihadapan tindak pidana korupsi itu sendiri. Satu hal yang seringkali tidak pernah dilihat bahwa korupsi adalah masalah yang 'so hidden'. Korupsi adalah masalah yang kasat mata. Sulit dilihat mata namun terjadi dan dilakukan oleh banyak orang karena terbukti adanya unsur-unsur kebocoran keuangan negara. Hal semacam ini menuntut pula cara bagaimana kita melihat dan mengatasi korupsi, ketika hukumpun tidak mampu lagi. Untuk itu perlu strategi alternatif yang harus dibangun. Korupsi telah menjadi budaya bukan dalam arti 'value system' melainkan dalam arti telah menjadi cara perilaku, cara berelasi, cara berpikir dan cara merasa kita semua termasuk setiap pejabat negara. Apabila mereka tidak korupsi, mereka justru malah disingkirkan secara politis oleh rekan-rekan pegawai yang lainnya. Oleh karena itu mendisain suatu perubahan atau pertobatan secara spiritual perlu adanya cara atau melalui budaya itu sendiri.
Oleh karena itu APP 2006 mau sungguh-sungguh mengajak kita semua umat beriman membangun budaya baru, budaya alternatif ataupun juga budaya tandingan dari budaya yang sudah ada yaitu budaya korupsi. Membangun budaya baru itu berarti mengenakan cara hidup, cara berperilaku, cara berelasi, cara berpikir, cara rasa merasa yang baru sehingga terbangunlah hidup bersama yang saling menghargai, menghormati dan adil. Manusia itu hidup bersama, bukan sendirian. Di situlah nilai-nilai hendaknya menjadi orientasi seluruh perilaku di dalam hidup sehari-hari. Hidup bersama tidak akan terbangun bila masih ada orang-orang yang hanya mau mementingkan diri sendiri, memperkaya diri, egois serta hedonis. Hidup bersama yang kita jalani memerlukan tatanan, semangat dan maupun dasar-dasar hidup yang lebih baik dari hari ke hari sehingga terbangunlah tatanan yang baik.

3. Kisah Biblis

Pewartaan pokok Kitab Suci perjanjian baru adalah warta gembira tentang 'Kerajaan Allah' yang dibawa oleh Tuhan Yesus sendiri. Allah 'sabaoth', Allah Yang Maha Rahim dan Maha Kasih diwartakan agar sungguh menguasai dan merajai 'loh-loh batu' nurani manusia hingga jaman sekarang. Sungguhkah Allah tetap meraja hingga hari ini' 'meraja' bisa berarti Allah tetap menjadi orientasi seluruh sikap dan perilaku, insting, cara rasa-merasa kita, dan cara kita mengambil keputusan.
Apakah perilaku korupsi sudah ada sejak jaman Yesus' Sudah menjadi perilaku yang de fakto ada di tengah masyarakat. Bahkan ketika masyarakat bersungut-sungut melihat peristiwa itu :

* 'Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah. Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul. Tetapi Petrus berkata: 'Ananias mengapa hatimu dikuasai iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu'. Selama tanah itu tidak dijual bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya tetap dalam kuasamu'. Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu'. Engkau bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah'. Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya. Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Kata Petrus kepadanya: 'Katakanlah kepadaku dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual'' Jawab Perempuan itu : 'Betul sekian.' Kata Petrus: 'Mengapa kamu berdua sepakat untuk mencobai Roh Tuhan''. Lihatlah orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga keluar'. Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang muda itu masuk, mereka mendapatinya sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya. Maka sangatlah ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.' (Kis 5:1-11).

Menyimak kisah ini cukup menarik. Maksud jahat untuk mengambil sebagian hasil jualan tanah oleh Ananias terbongkar juga. Namun yang penting justru apa yang dilakukan Petrus. Perilaku jahat seperti di atas bukan saja memiliki konskuensi di antara manusia. Petrus menegaskan, 'Mengapa kamu mendustai Roh Tuhan'. Perilaku jahat memiliki konsekuensi pada Tuhan sendiri. Itu berarti korupsi bukan sekedar merugikan negara, melawan hukum negara, egois dls; akan tetapi memiliki konsekuensi pada mendustai Tuhan sendiri. Kerapkali hal semacam ini tidak dilihat sebagai unsur yang hakiki di dalam hidup sekarang. Orang atau pejabat bisa saja diam ketika melakukan korupsi. Seakan-akan, dia bisa tenang, toh juga tidak ketahuan. Korupsi memang masalah yang 'so hidden', tidak kasat mata, tidak jelas kelihatan faktanya apa. Di situlah kita justru diuji nurani kerohanian semacam ini. 'Mengapa engkau mendustai Roh Tuhan', menjadi kata-kata yang cukup tajam menyentuh Ananias hingga masuk sanubarinya.

4. Membangun sikap tobat: bebas dari budaya korupsi

1. Orientasi baru budaya anti korupsi

Dari pengalaman sering terjadi bahwa korupsi tidak lagi dipermasalahkan sebagai perbuatan tercela, tetapi sebagai masalah partisipasi sosial atau tuntutan perubahan sosial dan dapat disebut sindrom anomali. Artinya, orang atau pejabat itu tahu korupsi itu jahat, tercela, aib, dosa , merugikan negara dls, tetapi tetap saja dilakukan. Bahkan bagi mereka yang tidak ikutan korupsi seringkali justru malah tersingkir dari kelompok yang mau korupsi. Biasanya ada pelopor korupsi yang kemudian diikuti oleh teman-teman sekitar, dan kelompok yang menolak korupsi dinilai 'abnormal'. Ini yang seringkali disebutkan bahwa korupsi telah begitu membudaya di kalangan kita. Kelompok yang anti korupsi tersingkir, yang korupsi lenggang kangkung malah tambah kaya. Idealnya, pada level pemberantasan budaya korupsi berarti perlunya kelompok anti korupsi yang lebih besar lagi. Tidak cukup hanya kelompok kecil yang melawan budaya itu, perlunya kelompok tandingan yang jauh lebih besar membangun gerakan anti korupsi ini.

Di Indonesia gerakan anti korupsi seringkali diangap riak-riak kecil yang walau skala besar tetapi tidak dihiraukan lagi. Kelompok demo anti korupsi yang lantangpun juga tidak berpengaruh besar bagi perubahan atau pembrantasan korupsi itu sendiri. Bahkan di dalam Pancasila, anti korupsi tidak disebutkan menjadi salah satu pokok bahasan. Oleh karena itu berbeda dengan masalah keTuhanan, Kemanusiaan, Persatuan Keadilan, dan Kerakyatan. Oleh karena itu seolah-olah korupsi tidak melanggar salah satu dari ke lima sila itu sendiri. Padahal sudah dirasakan banyak orang bahwa korupsi sudah begitu menyengsarakan banyak warga yang seharusnya mendapat haknya mereka tidak mendapatkan sama sekali.

Oleh karena itu perlunya orientasi baru bersama sebagai warganegara bangsa Indonesia ini untuk bersama-sama membangun budaya anti korupsi itu sendiri. Dari telaah kitab suci kelihatan bahwa korupsi yang terjadi dalam konteks kepabeanan (Cukai) sungguh merupakan perbuatan dosa besar. Bahkan Kisah para rasul amat jelas mendaratkan kasus korupsi ala Ananias, dikatakan oleh Petrus sebagai 'Mendustai Roh Tuhan sendiri'. Oleh karena itu penghayatan anti korupsi dan upaya membangun budaya anti korupsi dapat diwujudkan melalui kesadaran akan beberapa hal:

  1. Korupsi adalah tindak melawan kesejahteraan bersama (bonum commune) atau kebaikan bersama seluruh ciptaan. Oleh karena itu korupsi merupakan 'dosa berat' mendustai 'Roh Tuhan' sendiri. Korupsi adalah budaya sesaat karena dipicu oleh konsumerisme, nepotisme dan egoisme sebagai akar-akar dosa sosial. Maka membangun cara hidup anti korupsi adalah membangun solidaritas antar warga bersama.
  2. Bertobat atau berbalik kepada Allah dari budaya korupsi menuju ke budaya anti korupsi adalah panggilan kita semua yang mau membangun negara ini menjadi lebih baik.
  3. Panggilan untuk pertobatan tersebut merupakan perutusan bersama mulai dari tingkat lingkungan, wilayah, paroki, Gereja, masyarakat, pemerintah RT, RW dan pemerintah desa hingga kecamatan, kabupaten dan propinsi maupun tingkat pusat.
  4. Membangun budaya anti korupsi adalah membangun sistem baru yang lebih mewujudkan watak sosial dan religius demi kebersamaan, solidaritas dan bahkan keadilan sosial. Watak sosial ini yang kemudian juga terwujud dalam perilaku baru anti korusi.
5. Aksi Nyata Budaya Anti korupsi

1. Aksi perorangan

Aksi nyata pra paskah merupakan gerakan yang muncul dari kesadaran akan keberdosaan pribadi manusia dan kemudian kesadaran akan betapa besarnya kasih Allah yang terwujud dalam sikap tobat. Sikap tobat adalah sikap ingin berubah dari cara hidup yang lama menuju dan memeluk cara hidup yang baru berdasarkan nilai-nilai injili karena semangat kasih Allah. Oleh karena itu, setiap umat beriman terutama masa prapaskah ini diundang untuk memperbaharui diri. Tahun 2006 ini, sikap tobat itu akan bersama-sama kita orientasikan ke pembangunan budaya baru yang anti korupsi.

Maka pertobatan ini hendaknya mulai dari hati, pikiran waktu tenaga, milik yang diarahkan pada kepekaan akan kasih Allah yang jauh lebih besar karena telah menganugerahkan rahmat yang melimpah kepada kita yaitu keselamatan melalui PuteraNya Tuhan Kita Yesus Kristus. Di samping itu juga kepekaan akan situasi sekitar yang ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang miskin, cacat, tersingkir dan lemah. Pendek kata, pertobatan khususnya selama masa pra paskah 2006 diarahkan untuk pembangunan hidup yang jujur, hidup yang sederhana, solider dengan sesama. Untuk membangun budaya anti korupsi bukan pertama-tama harus mulai dari perubahan sistem yang ada tetapi hendaknya mulai dari perubahan pribadi. Gerakan bersama anti korupsi mulai dari sikap pribadi yang memang mau menolak.

2. Aksi tingkat keluarga

Proses belajar setiap pribadi secara dini bukan mulai dari lingkungan, melainkan dari keluarga. Situasi dan kondisi keluarga akan sangat menentukan bagaimana corak, hidup religius, kejujuran, serta hidup sosial. Keluarga inti, keluarga besar serta keluarga masyarakat luas adalah institusi yang mempersipakan pribadi manusia itu menjadi lebih baik. Bagaimana seorang pribadi berwatak adil, jujur, mau solider dengan temannya atau tidak, mau tenggang rasa, bisa menghormati sesamanya dll; adalah sumbangan besar dari keluarga kepada masyarakat luas. Oleh karena pembangunan budaya anti korupsi harus mulai juga dari tingkat keluarga. Sebagai contoh: Ada anaknya minta HP dituruti, minta sepeda motor dituruti, minta mobil dituruti, padahal gaji ayahnya dan ibunya amat terbatas. Situasi semacam ini akan mengembangsuburkan budaya korupsi yang sudah begitu biasa menjadi cara hidup.

3. Aksi tingkat lingkungan/komunitas basis

Aksi keluarga yang mau membangun budaya anti korupsi bagu akan sungguh-sungguh efektif apabila didukung oleh lingkungan/komunitas basisnya. Tidak jarang dialami bahwa mereka yang menolak korupsi justru disingkirkan karena tidak mau solider bersama-sama temannya yang korup. Oleh karena itu, komunitas basis bukan hanya dipahami dalam arti teritorial, tetapi terlebih secara kategorial khususnya yang terjadi di kantor-kantor pelayanan publik.
Dukungan komunitas terdekat khususnya di tingkat pekerjaan di kantor amat menentukan dan berpengaruh bagi pembangunan budaya anti korupsi sebagai alternatif berhadapan dengan budaya korupsi yang sudah begitu biasa. Oleh karena itu hendaknya di dalam 'komunitas basis' gerakan budaya anti korupsi semacam ini menjadi gerakan bersama.

4. Aksi tingkat Masyarakat

Sejarah telah menunjukkan bahwa pada dirinya sendiri, Gerakan Aksi Puasa Pembangunan bukan sekedar berorientasi pada diri si pelaku. Gerakan yang mulai dari pertobatan pribadi ini, hendaknya makin diarahkan kepada pembangunan hidup masyarakat luas. Wacana semacam ini telah berkembang sejak APP itu sendiri diputuskan oleh anggota Wali Gereja sekitar th 1970. Pendeknya APP sebenarnya merupakan rahmat bagi masyarakat luas, khususnya yang miskin, lemah tersingkir, dan cacat.
Oleh karena itu, upaya semacam ini hendaknya terus menerus dikembangkan di masing-masing keuskupan, paroki, wilayah dan lingkungan melalui aksi sosial, aksi nyata atau aksi peduli sesama. Sarana lain yang bisa diusahakan demi berhasilnya pelayanan bagi sesama adalah dengan membangun kerjasama dengan berbagai pihak. Berbagai tokoh masyarakat luas hendaknya diundang untuk proyek-proyek dari dana APP agar rahmat dan kasih Tuhan yang melimpah ini juga dirasakan oleh mereka. Salah satu contoh yang dirasakan masyarakat adalah hingga kini ada jalan yang disebut 'jalan APP'. Jalan ini milik warga tetapi di dalam perbaikan diusahakan dengan dana APP. Ini sekedar contoh bagaimana APP sungguh menjadi rahmat bagi sesama.
Aksi pembangunan budaya anti korupsi bisa jadi akan menjadi lebih efektif bila juga menjadi pembicaraan uamt bersama warga setempat, menjadi pembicaraan di RT, di RW dll. Di sanalah gerakan APP menjadi cindera mata yang setiap tahun dipersembahkan kepada masyarakat luas, yang tidak melihat golongan, agama, suku ataupun warna kulit. Hal semacam ini mengajarkan dengan jelas bahwa kesalehan bukan terletak seberapa banyak doanya, berapa kali ikut novena, di sekitar altar, melainkan bagaimana kiprah hidup umat beriman ditengah masyarakat. Bukan hanya dalam bentuk sumbangan uang, tenaga dll melainkan juga bagaimana membangun budaya yang anti korupsi itu.

5. Penutup

Aksi Puasa Pembangunan 2006 dengan sengaja memberanikan diri mengambil tema 'Bebas Budaya Korupsi' untuk menunjuk betapa dalamnya keprihatinan umat katolik terhadap kenyataan situasi bangsa. Namun sekaligus juga, umat katolik bukannya berposisi ada di luar bangsa ini, melainkan ada di dalamnya. Masalah korupsi bukan sekedar masalahnya pemerintah, atau bangsa melainkan juga masalahnya umat katolik juga. Untuk itu umat katolik dalam keprihatinannya bersama dengan umat beriman lain yang berkehendak baik ingin berbuat sesuatu bagi situasi bangsa yang penuh dengan korupsi, sekaligus juga menundang semua saja untuk menyikapinya dengan arif dan mengambil langkah kongkrit guna menyelesaikan secara bersama masalah tersebut diatas.
Masalah 'korupsi' bukan saja menjadi masalah yang berdiri sendiri, tetapi merupakan konspirasi yang saling terkait satu sama lain dengan situasi bangsa secara menyeluruh. Namun ini semua telah menjadi keprihatinan yang mendalam bagi situasi masyarakat secara luas. Membangun budaya anti korupsi merupakan keutamaan yang hendaknya dipegang setiap orang beriman.

"Ananias mengapa hatimu dikuasai iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu'. Selama tanah itu tidak dijual bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya tetap dalam kuasamu'. Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu'. Engkau bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah" (Kis 5:3-4)
Dengan demikian korupsi adalah tindak mendustai manusia dan Allah sendiri. Oleh karena membangun budaya anti korupsi adalah membangun hidup yang penuh rahmat karena diberkati bukan mendustai. Dalam terang kerahiman Allah bagi semua makhlukNya, manusia dipanggil untuk bertindak lebih baik dan bijak. Manusia dipanggil untuk ambil bagian dalam membangun budaya baru yang sampai kepada kesempurnaan.
'Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain'. Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian'. Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna' (Mt 5:47-48).
Maka gagasan pembangunan budaya anti korupsi sebagai alternatif dari budaya korupsi yang sudah merajalela ini bisa ditempatkan dalam konteks mengusahakan kesempurnaan hidup. Bukan materi yang akan membawa kita ke surga menuju ke kesempurnaan melainkan sikap dan perilaku yang baik, jujur, dan tidak korup. Itulah perlunya pembangunan budaya anti korupsi.


Panitia APP KAS 2006